A.    Hakikat Penelitian Pengembangan

Menurut Gay (1990) Penelitian Pengembangan adalah suatu usaha untuk mengembangkan suatu produk yang efektif untuk digunakan sekolah, dan bukan untuk menguji teori. Sedangkan Borg and Gall (1983:772) mendefinisikan penelitian pengembangan sebagai berikut:

Educational Research and development (R & D) is a process used to develop and validate educational products. The steps of this process are usually referred to as the R & D cycle, which consists of studying research findings pertinent to the product to be developed, developing the products based on these findings, field testing it in the setting where it will be used eventually, and revising it to correct the deficiencies found in the filed-testing stage. In more rigorous programs of R&D, this cycle is repeated until the field-test data indicate that the product meets its behaviorally defined objectives.

Penelitian Pendidikan dan pengembangan (R & D) adalah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Langkah-langkah dari proses ini biasanya disebut sebagai siklus R & D, yang terdiri dari mempelajari temuan penelitian yang berkaitan dengan produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan ini, bidang pengujian dalam pengaturan di mana ia akan digunakan akhirnya , dan merevisinya untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan dalam tahap mengajukan pengujian. Dalam program yang lebih ketat dari R & D, siklus ini diulang sampai bidang-data uji menunjukkan bahwa produk tersebut memenuhi tujuan perilaku didefinisikan.

Seals dan Richey (1994) mendefinisikan penelitian pengembangan sebagai suatu pengkajian sistematik terhadap pendesainan, pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektifitas. Sedangkan Plomp (1999) menambahkan kriteria “dapat menunjukkan nilai tambah” selain ketiga kriteria tersebut.

Van den Akker dan Plomp (1993) mendeskripsikan penelitian pengembangan berdasarkan dua tujuan yakni

  1. Pengembangan prototipe produk
  2. Perumusan saran-saran metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe produk tersebut

Sedangkan Richey dan Nelson (1996) membedakan penelitian pengembangan atas dua tipe sebagai berikut.

  • Tipe pertama difokuskan pada pendesaianan dan evaluasi atas produk atau program tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang proses pengembangan serta mempelajari kondisi yang mendukung bagi implementasi program tersebut.
  • Tipe kedua dipusatkan pada pengkajian terhadap program pengembangan yang dilakukan sebelumnya. Tujuan tipe kedua ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang prosedur pendesainan dan evaluasi yang efektif.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan. Produk yang dihasilkan antara lain: bahan pelatihan untuk guru, materi belajar, media, soal, dan sistem pengelolaan dalam pembelajaran

B.     Karakteristik dan Motif Penelitian Pengembangan

Menurut Wayan (2009) ada 4 karateristik penelitian pengembangan antara lain :

  1. Masalah yang ingin dipecahkan adalah masalah nyata yang berkaitan dengan upaya inovatif atau penerapan teknologi dalam pembelajaran sebagai pertanggung jawaban profesional dan komitmennya terhadap pemerolehan kualitas pembelajaran.
  2. Pengembangan model, pendekatan dan metode pembelajaran serta media belajar yang menunjang keefektifan pencapaian kompetensi siswa.
  3. Proses pengembangan produk, validasi yang dilakukan melalui uji ahli, dan uji coba lapangan secara terbatas perlu dilakukan sehingga produk yang dihasilkan bermanfaat untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Proses pengembangan, validasi, dan uji coba lapangan tersebut seyogyanya dideskripsikan secara jelas, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara akademik.
  4. Proses pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan media pembelajaran perlu didokumentasikan secara rapi dan dilaporkan secara sistematis sesuai dengan kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas.

Sedangkan motif penelitian pengembangan seperti dikemukankan Akker (1999) antara lain :

  1. Motif dasarnya bahwa penelitian kebanyakan dilakukan bersifat tradisional, seperti eksperimen, survey, analisis korelasi yang fokusnya pada analsis deskriptif yang tidak memberikan hasil yang berguna untuk desain dan pengembangan dalam pendidikan.
  2. Keadaan yang sangat kompleks dari banyknya perubahan kebijakan di dalam dunia pendidikan, sehingga diperlukan pendekatan penelitian yang lebih evolusioner (interaktif dan siklis).
  3. Penelitian bidang pendidikan secara umum kebanyakan mengarah pada reputasi yang ragu-ragu dikarenakan relevasi ketiadaan bukti.

C.    Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Pengembangan

Pada rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian pengembangan biasanya berisi dua informasi, yaitu (1) masalah yang akan dipecahkan dan (2) spesifikasi pembelajaran, model, soal, atau perangkat yang akan dihasilkan untuk memecahkan masalah tersebut. Selama dua aspek ini terkandung dalam sebuah rumusan masalah penelitian pengembangan, maka rumusan masalah tersebut sudah benar.

Penambahan beberapa sub-masalah untuk merinci rumusan masalah (utama) bisa saja dilakukan selama tidak mengurangi kejelasan makna dari rumusan masalah tersebut, misalnya tetap hanya akan menghasilkan sebuah produk perangkat pembelajaran dalam satu penelitian pengembangan. Rumusan masalah penelitian pengembangan bisa dirinci menjadi beberapa sub-masalah apabila perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan bisa dibagi menjadi beberapa bagian.

Menurut Akker (1999) tujuan penelitian pengembangan dibedakan berdasarkan pengembangan pada bagian kurikulum, teknologi dan media, pelajaran dan instuksi, dan pendidikan guru didaktis. Berikut ini penjelasannya :

1.   Pada bagian kurikulum

Tujuannya adalah menginformasikan proses pengambilan keputusan sepanjang pengembangan suatu produk/program untuk meningkatkan suatu program/produk menjadi berkembang dan kemampuan pengembang untuk menciptakan berbagai hal dari jenis ini pada situasi ke depan.

2.   Pada bagian teknologi dan media

Tujuannya adalah untuk menigkatkan proses rancangan instruksional, pengembangan, dan evaluasi yang didasarkan pada situasi pemecahan masalah spesifik yang lain atau prosedur pemeriksaan yang digeneralisasi.

3.   Pada bagian pelajaran dan instruksi

Tujuannya adalah untuk pengembangan dalam dalam perancangan lingkungan pembelajaran, perumusan kurikulum, dan penaksiran keberhasilan dari pengamatan dan pembelajaran, serta secara serempak mengusahakan untuk berperan untuk pemahaman fundamental ilmiah.

4.   Pada bagian pendidikan guru dan didaktis

Tujuannya adalah untuk memberikan kontribusi pembelajaran keprofesionalan para guru dan atau menyempurnakan perubahan dalam suatu pengaturan spesifik bidang pendidikan. Pada bagian didaktis, tujuannya untuk menjadikan penelitian pengembangan sebagai suatu hal interaktif, proses yang melingkar pada penelitian dan pengembangan dimana gagasan teoritis dari perancang memberi pengembangan produk yang diuji di dalam kelas yang ditentukan, mendorong secepatnya ke arah teoritis dan empiris dengan menemukan produk, proses pembelajaran dari pengembang dan teori instruksional.

D.    Proses Penelitian Pengembangan

Penelitian Pengembangan biasanya dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan penelitian. Yang dimaksud masalah pembelajaran.dalam penelitian pengembangan adalah masalah yang terkait dengan perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, lembar kerja siswa, media pembelajaran, tes untuk mengukur hasil belajar, dsb. Perangkat pembelajaran dianggap menjadi masalah karena belum ada, atau ada tetapi tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran, atau ada tetapi perlu diperbaiki, dsb. Tentunya tidak semua masalah perangkat pembelajaran akan diselesaikan sekaligus, satu masalah perangkat pembelajaran saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan lebih dulu.

Tahap berikutnya adalah mengkaji teori tentang pengembangan perangkat pembelajaran yang relevan dengan yang akan dikembangkan. Setelah menguasai teori terkait dengan pengembangan perangkat pembelajaran, peneliti kemudian bekerja mengembangkan draft perangkat pembelajaran berdasarkan teori yang relevan yang telah dipelajari. Setelah selesai dikembangkan, draft harus berulangkali direview sendiri oleh peneliti atau dibantu oleh teman sejawat (peer review).

Setelah diyakini bagus sesuai dengan yang diharapkan, draft tersebut dimintakan masukan kepada para ahli yang relevan (expert validation). Masukan dari para ahli dijadikan dasar untuk perbaikan terhadap draft. Setelah draft direvisi berdasar masukan dari para ahli, langkah berikutnya adalah menguji-coba draft tersebut. Uji-coba disesuaikan dengan penggunaan perangkat. Bila yang dikembangkan adalah bahan ajar, maka uji-cobanya adalah digunakan untuk mengajar kepada siswa yang akan membutuhkan perangkat tersebut. Uji-coba bisa dilakukan pada beberapa bagian saja terhadap sekelompok kecil siswa, atau satu kelas. Bila yang diuji-coba adalah silabus, maka uji-cobanya adalah terhadap guru yang akan menggunakan silabus tersebut. Kegiatan uji-cobanya adalah meminta guru menggunakan silabus untuk menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP).

Tujuan uji-coba adalah untuk melihat apakah perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat diterima atau tidak. Dari hasil uji-coba, beberapa bagian mungkin memerlukan revisi. Kegiatan terakhir adalah revisi terhadap draft menjadi draft akhir perangkat pembelajaran tersebut.

Menurut Akker (1999), ada 4 tahap dalam penelitian pengembangan yaitu :

1.   Pemeriksaan pendahuluan (preliminary inverstigation).

Pemeriksaan pendahuluan yang sistematis dan intensif dari permasalahan mencakup:

  • tinjauan ulang literatur,
  • konsultasi tenaga ahli,
  • analisa tentang ketersediaan contoh untuk tujuan yang terkait, dan
  • studi kasus dari praktek yang umum untuk merincikan kebutuhan.

2.   Penyesuaian teoritis (theoretical embedding)

Usaha yang lebih sistematis dibuat untuk menerapkan dasar pengetahuan dalam mengutarakan dasar pemikiran yang teoritis untuk pilihan rancangan.

3.   Uji empiris (empirical testing)

Bukti empiris yang jelas menunjukkan tentang kepraktisan dan efektivitas dari intervensi.

4.   Proses dan hasil dokumentasi, analisa dan refleksi (documentation,analysis, and reflection on process and outcome).

Implementasi dan hasilnya untuk berperan pada spesifikasi dan perluasan metodologi rancangan dan pengembangan penelitian.

E.     Metode Penelitian Pengembangan

Metode penelitian pengembangan tidaklah berbeda jauh dari penelitian pendekatan penelitian lainya. Namun, pada penelitian pengembangan difokuskan pada 2 tahap yaitu tahap preliminary dan tahap formative evaluation (Tessmer, 1993) yang meliputi self evaluation, prototyping (expert reviews dan one-to-one, dan small group), serta field test. Adapun alur desain formative evaluation sebagai berikut :

Gambar 1. Alur Desain formative evaluation (Tessmer, 1993)

1.   Tahap Preliminary

Pada tahap ini, peneliti akan menentukan tempat dan subjek penelitian seperti dengan cara menghubungi kepala sekolah dan guru mata pelajaran disekolah yang akan menjadi lokasi penelitian. Selanjutnya peneliti akan mengadakan persiapan-persiapan lainnya, seperti mengatur jadwal penelitian dan prosedur kerja sama dengan guru kelas yang dijadikan tempat penelitian.

2.   Tahap Formative Evaluation

1)   Self Evaluation

  • Analisis

Tahap ini merupakan langkah awal penelitian pengembangan. Peneliti dalam hal inin akan melakukan analisis siswa, analisis kurikulum, dan analisis perangkat atau bahan yang akan dikembangkan.

  • Desain

Pada tahap ini peneliti akan mendesain perangkat yang akan dikembangkan yang meliputi pendesainan kisi-kisi, tujuan, dan metode yang akan di kembangkan. Kemudian hasil desain yang telah diperoleh dapat di validasi teknik validasi yang telah ada seperti dengan teknik triangulasi data yakni desain tersebut divalidasi oleh pakar (expert) dan teman sejawat.  Hasil pendesainan ini disebut sebagai prototipe pertama.

2)   Prototyping

Hasil pendesainan pada prototipe pertama yang dikembangkan atas dasar self evaluation diberikan pada pakar (expert review) dan siswa (one-to-one) secara paralel. Dari hasil keduanya dijadikan bahan revisi. Hasil revisi pada prototipe pertama dinamakan dengan prototipe kedua.

  • Expert Review

Pada tahap expert review, produk yang telah didesain dicermati, dinilai dan dievaluasi oleh pakar. Pakar-pakar tadi menelaah konten, konstruk, dan bahasa dari masing-masing prototipe. Saran–saran para pakar digunakan untuk merevisi perangkat yang dikembangkan. Pada tahap ini, tanggapan dan saran dari para pakar (validator) tentang desain yang telah dibuat ditulis pada lembar validasi sebagai bahan merevisi dan menyatakan bahwa apakah desain ini telah valid atau tidak.

  • One-to-one

Pada tahap one-to-one, peneliti mengujicobakan desain yang telah dikembangkan  kepada siswa/guru yang menjadi tester. Hasil dari pelaksanaan ini digunakan untuk merevisi desain yang telah dibuat.

  • Small group

Hasil revisi dari expert dan kesulitan yang dialami pada saat uji coba pada prototipe pertama dijadikan dasar untuk merevisi prototipe tersebut dan dinamakan prototipe kedua kemudian hasilnya diujicobakan pada small group. Hasil dari pelaksanaan ini digunakan untuk revisi sebelum diujicobakan pada tahap field test. Hasil revisi soal berdasarkan saran/komentar siswa pada small group dan hasil analisis butir soal ini dinamakan prototipe ketiga.

3)   Field Test

Saran-saran serta hasil ujicoba pada prototipe kedua dijadikan dasar untuk merevisi desain prototipe kedua. Hasil revisi diujicobakan ke subjek penelitian dalam hal ini sebagai uji lapangan atau field test.

Produk yang telah diujicobakan pada uji lapangan haruslah produk yang telah memenuhi kriteria kualitas. Akker (1999) mengemukakan bahwa tiga kriteria kualitas adalah: validitas, kepraktisan, dan efektivitas (memiliki efek potensial).

DAFTAR PUSTAKA

Borg and Gall (1983). Educational Research, An Introduction. New York and London. Longman Inc.

Gay, L.R. (1991). Educational Evaluation and Measurement: Com-petencies for Analysis and Application. Second edition. New York: Macmillan Publishing Compan.

I Wayan Santyasa. (2009). Metode Penelitian Pengembangan & Teori Pengembangan Modul. Makalah Disajikan dalam Pelatihan Bagi Para Guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Tanggal 12-14 Januari 2009, Di Kecamatan Nusa Penida kabupaten Klungkung

Rita C. Richey, J. D. K., Wayne A. Nelson. (2009). Developmental Research : Studies of Instructional Design and Development.

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. (1994). Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama IPTPI LPTK UNJ.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Plomp, Tj. (1994). Educational Design: Introduction. From Tjeerd Plomp (eds). Educational &Training System Design: Introduction. Design of Education and Training (in Dutch).Utrecht (the Netherlands): Lemma. Netherland. Faculty of Educational Science andTechnology, University of Twente

Tessmer, Martin. (1998). Planning and Conducting Formative Evaluations. Philadelphia: Kogan Page.

van den Akker J. (1999). Principles and Methods of Development Research. Pada J. van den Akker, R.Branch, K. Gustafson, Nieven, dan T. Plomp (eds), Design Approaches and Tools in Education and Training (pp. 1-14). Dortrech: Kluwer Academic Publishers.

van den Akker J., dkk. (2006). Educational Design Research. London and New York: Routledge.

Didik darrell1.      Model Belajar Kerjasama ( Cooperative Learning Model )

A.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Davidson dan Warsham “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik”. Slavin menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Jadi dalam model pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif.

B.     Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial. Johnson & Johnson menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Descamps juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses dan pemecahan masalah.

Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa, dan memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa lainnya.

C.     Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif

Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1)  Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.

2)  Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.

3)  Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran.

4)  Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas semua pekerjaan kelompok.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1)  Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

2)   Kelompok dibentuk secara heterogen.

3)   Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu.

Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat teman sekelompoknya.

2.      Model Pendekatan Taktis

Pendekatan taktis mendorong siswa untuk memecahkan masalah taktik dalam permainan. Masalah ini pada hakikatnya berkenaan dengan peberapan keterampilan teknik dalam situasi permainan. Dengan demikian siswa makin memahami kaitan antara teknik dan taktik. Keuntungan lainnya, pendekatan ini tepat untuk mengajarkan keterampilan bermain sesuai dengan keinginan siswa. Tujuan utama dari pendekatan taktis dalam pengajaran permainan adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bermain.

Pendekatan taktik bermain membantu memikirkan guru untuk menguji kembali pandangan filosofis mereka pada pendidikan bermain. Model mengajar ini memungkinkan siswa untuk menyadari keterkaitan antara bermain dan peningkatan penampilan bermain mereka. (Subroto 2001 : 4) menjelaskan tentang tujuan pendekatan taktis secara spesifik yaitu untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan.

Model pembelajaran permainan taktikal menggunakan minat siswa dalam suatu struktur permainan untuk mempromosikan pengembangan keterampilan dan pengetahuan taktikal yang diperlukan untuk penampilan permainan. Sedangkan pembelajaran masuk ke dalam alam pikir siswa, sehingga terbentuk struktur pengetahuan tertentu. Pembelajaran pendekatan taktikal dalam pendidikan jasmani adalah bagian dari pembelajaran kognitif.

Pada model pembelajaran permainan taktikal, guru merencanakan urutan tugas mengajar dalam konteks pengembangan keterampilan dan taktis bermain siswa, mengarah pada permainan yang sebenarnya. Tugas-tugas belajar menyerupai permainan dan modifikasi bermain sering disebut juga “bentuk-bentuk permainan”. Penekanannya pada pengembangan pengetahuan taktikal yang memfasilitasi aplikasi keterampilan dalam permainan, sehingga siswa dapat menerapkan kegiatan belajarnya saat dibutuhkan. Pada intinya adalah siswa dapat mengembangkan keterampilan dan taktis bermain secara berkesinambungan.

Dalam strategi pembelajaran pendekatan taktis yaitu lebih menekankan pada konsep game-drill-game. Game yaitu bermain, siswa dituntut untuk bermain dengan konsep-konsep yang yang diberikan oleh guru dan memahami tentang permainan itu. Drill yaitu pengulangan, guru harus lebih teliti melihat permainan siswanya dan apabila terjadi kesalahan dalam tugas gerak maka guru menghentikan pembelajaran dan memberikan contoh gerakan yang benar kemudian siswa melakuakn tugas gerak. Kemudian game yaitu bermain, setelah melakukan pengulangan atau drill siswa kembali melakukan permainan dengan perubahan tugas gerak yang telah dilakukan pada tugas drill. Pembelajaran melalui model pembelajaran pendekatan taktis membiasakan siswa untuk melatih kognitif, afektif, dan psikomotor.

Pembelajaran taktikal mengutamakan pada pemanfaatan “masalah-masalah taktikal” sebagai perantara dan tujuan pembelajaran. Guru harus mampu menunjukan masalah-masalah taktis yang diperlukan dalam situasi bermain. Sedangkan bagi siswa, sangat penting untuk mengenali posisi bermain di lapangan secara benar, pilihan-pilihan gerak yang mungkin dilakukan, dan situasi-situasi bermain yang dihadapi siswa.

Kesadaran akan taktik, menggunakan dasar kemampuan untuk menekankan masala-masalah taktik yang muncul selama permainan. Hal itu sekaligus dapat memilih respons tersebut, mungkin terletak pada keterampilan gerak dalam penguasaan bola, seperti passing, dribling dan shooting dalam permainan bola tangan. Tujuan utama dalam mengajarkan olahraga di dalam pendidikan jasmani adalah untuk kesenangan, keterlibatan aktif, dan peningkatan keterampilan siswa yang bedampak positif terhadap hidupnya. Dalam proses pembelajaran, tujuan tersebut akan tercapai dan tidaknya tergantung pada bagaimana metode/ pendekatan keterampilan mengajar yang diterapkan guru kepada siswa dalam mengajar.

Selama ini dalam proses pengajaran pendididikan jasmani di sekolah masih ada guru yang menganut sistem pendekatan yang bersifat tradisional, yang menekankan pengajaran hanya pada penguasaan keterampilan atau teknik dasar suatu cabang olahraga. Meskipun format/ konsep pengajaran seperti itu memang bisa meningkatkan penguasaan teknik siswa, tetapi kekurangannya adalah bahwa keterampilan teknik dasar diajarkan kepada siswa sebelum siswa mampu memahami keterkaitan atau relevansi teknik-teknik dasar tersebut dengan penerapannya di dalam permainan yang sebenarnya, akibatnya sifat kesinambungan dari implementasi teknik dasar ke dalam permainan menjadi terputus. Untuk menghindari hal tersebut sekarang sudah dikenal suatu sistem pendekatan yang dirasakan lebih cocok untuk diterapkan dalam mengajar penjas terutama yang terkait dengan mengajar untuk olahraga-olahraga yang bersifat permainan yaitu sistem “pendekatan taktis”.

Pengajaran melalui pendekatan taktis ini berusaha menghubungkan kemampuan taktis bermain dan keterampilan teknik dasar dengan menekankan pemilihan waktu yang tepat untuk melatih teknik dasar dan aflikasi dari pada teknik dasar tersebut ke dalam keterkaitannya dalam kemampuan taktis bermain, sehingga mampu merangsang siswa untuk befikir dan menemukan sendiri alasan-alasan yang melandasi gerak dan penampilannya (peformance). Selain itu sistem pendekatan taktis ini dapat dipakai untuk menghindari dari ketidak tercapaiannya tujuan/ target kompetensi yang diajarkan karena minimnya pasilitas yang ada pada sekolah, ataupun dikarenakan alokasi waktu yang sedikit yang diberikan untuk mata pelajaran penjas ini.

Dalam pelaksanaannya pendekatan taktis ini memanfaatkan bentuk-bentuk permaianan yang dimodifikasi. Penulis contohkan di sini misalnya pada permainan bola voli, bentuk modifikasinya seperti ukuran lapangan diperkecil, tinggi tiang net diperpendek, jumlah pemain bisa dikurangi atau ditambah. Modifikasi ini disesuaikan dengan kemampuan keterampilan siswa dan sarana yang ada.

Di bawah ini dipaparkan salah satu contoh sederhana penerapannya dalam praktik. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Bentuk beberapa kelompok siswa yang terdiri dari tiga orang. Tiga orang siswa pertama tempatkan dilapangan (setengah lapangan) dengan posisi membentuk segitiga dengan masing-masing memiliki tugas, orang kesatu bertugas sebagai penerima bola pertama yang akan diberikan kepada orang kedua yang bertindak sebagai pengumpan (tosser), dan orang ketiga sebagai spaiker.
2. Setelah menempati posisi sesuai dengan tugasnya masing-masing latihan dapat dimulai dengan memainkan bola diawali oleh guru yang memberikan bola kepada orang pertama selanjutnya dari orang pertama diberikan kepada orang kedua dengan cara di passing dan dari orang kedua selanjutnya diumpankan kepada orang ketiga untuk dismash.

3. Setelah selesai melakukan latihan yang pertama maka siswa diputar bergantian posisi, orang kesatu diganti oleh orang ketiga, orang kedua diganti oleh orang kesatu, dan orang ketiga diganti oleh orang kedua dan seterusnya sampai semua siswa dapat melakukan dan merasakan posisi-posisi tersebut. Setelah semuanya selesai ganti dengan kelompok berikutnya. Lakukan hal yang sama seperti penjelasan di atas. Lihat gambar di bawah ini:
4. Setelah semua kelompok selesai berlatih dapat dilanjutkan dengan game dalam bentuk yang dimodifikasi sesuai dengan kemampuan keterampilan siswa.

3.      Model Mengajar Inkuiry

Model pembelajaran inkuiri diciptakan oleh Suchman (1962) dengan alasan ingin memberikan perhatian dalam membantu siswa menyelidiki secara independen, namun dalam suatu cara yang teratur. Ia menginginkan agar siswa menanyakan mengapa sesuatu peristiwa itu terjadi, memperoleh dan mengolah data secara logis, dan agar siswa mengembangkan strategi intelektual mereka untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Inkuiri adalah suatu pencarian makna yang mensyaratkan seseorang untuk melakukan sejumlah operasi intektual untuk menciptakan pengalaman. Pada prinsipnya model inkuiri merupakan model yang menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa di samping juga pada guru, dan yang terutama dalam model inkuiri adalah siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam menyelesaikan suatu topik permasalahan hingga sampai pada suatu kesimpulan. Latihan inkuiri dapat diberikan pada setiap tingkatan umur (mulai dari Taman Kanak-kanak dan seterusnya), namun tentunya dengan tingkat kesulitan masalah yang berbeda.

Selain itu Metzler (2000:333) juga mengemukakan pendapatnya bahwa: “The inquiry model can be effective at all grades if the levels of cognitive and psychomotor problems given to student match their developmental readiness.” Maksudnya adalah model inkuiri bisa efektif untuk seluruh tingkatan kelas seandainya tingkat permasalahan kognitif dan psikomotor yang diberikan pada siswa sesuai dengan kesiapan perkembangannya. Masih menurut pendapat Metzler (2000:312) bahwa: “Inquiry teaching model is used in many schools in the United States and abroad, most often at the elementary grades.” Jadi model pembelajaran inkuiri ini digunakan oleh banyak sekolah di Amerika Serikat dan negara lainnya pada tingkat SD.

Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dengan waktu yang relatif singkat. Inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional. Proses inkuiri dapat dimulai pertama-tama dengan mencari informasi dan data dengan menggunakan human sense, seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan (www.thirteen.org/ edonline/concept2class/ monthh6/index_sub1.htm1). Kegiatan inkuiri tidak terjadi dengan sendirinya, namun harus diciptakan kondisi yang memungkinkannya untuk itu.

Berikut ini akan dipaparkan contoh penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pelajaran pendidikan jasmani.

Kegiatan Pembelajaran:

A. Pemanasan:

1. Berbaris, berdoa dan mengabsen.

2. Melakukan lari, peregangan dinamis dan statis.

3. Penjelasan tentang materi inti yang akan dilakukan pada kegiatan

selanjutnya.

Hal yang perlu diingat bahwa dalam pemanasan ini siswa diberi kebebasan untuk memimpin pemanasan tanpa harus diatur atau dikomando oleh guru. Fungsi guru hanya mengawasi saja.

B. Kegiatan Inti:

Siswa dibagi menjadi empat kelompok dalam barisan berbanjar dan saling berhadapan dengan jarak yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, lalu materi yang diberikan adalah:

  • Melakukan berbagai keterampilan dasar permainan kasti atau rounders dengan baik (melambungkan, melempar, menangkap).

Tahap pertama: Menyajikan pertanyaan atau masalah. Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan atau masalah, dan guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru : Coba jelaskan bagaimana cara melempar dan menangkap bola?

Siswa: memperhatikan dan mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh

guru.

Tahap kedua: Membuat hipotesis. Pada tahap ini guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: Membiarkan siswa untuk berpikir dan berhipotesis tentang bagaimana caranya agar bisa melempar dan menangkap bola.

Siswa: berpikir dan berhipotesis untuk dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Tahap ketiga: Merancang percobaan. Pada tahap ini guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. Misalnya: guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan urutan tentang cara melempar dan menangkap dengan cara mereka sendiri, siswa menjelaskan secara verbal dan siswa belum mempraktekkan dengan gerakan.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan cara melempar

dan menangkap bola dengan cara mereka sendiri.

Siswa: menjelaskan secara verbal cara melempar dan menangkap bola dengan hasil pikiran mereka sendiri, dan siswa belum mempraktekkannya dengan gerakan.

Tahap keempat: Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi. Pada tahap ini guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui praktek.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: memberi kebebasan pada siswa untuk mencoba dan mempraktekkan

cara melempar dan menangkap bola dengan hasil pikiran dan temuan mereka sendiri. Dalam hal ini guru membimbing dan mengawasi siswa.

Siswa: mencoba dan mempraktekkan cara melempar dan menangkap bola

dengan hasil pikiran dan temuan mereka sendiri.

Tahap kelima: Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah seluruh siswa mempraktekkan, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan tentang cara melempar dan menangkap berdasarkan hasil temuan masing-masing siswa, dan peran guru di sini adalah menganalisis hasil temuan siswa.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: dapatkah kalian menjelaskan dan mendemonstrasikan pada saya cara melempar dan menangkap bola?

Siswa: Berpikir dan bergerak

Tahap keenam: Membuat kesimpulan. Pada tahap ini guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. Maksudnya guru memberi kesempatan pada siswa untuk menyimpulkan tentang hasil temuan siswa.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: saya melihat kalian sudah dapat melempar dan menangkap bola, sekarang saya ingin anda simpulkan tentang cara melempar dan menangkap bola.

Siswa: menyimpulkan tentang cara melempar dan menangkap bola secara

verbal dan juga dengan gerakan.

C. Penutup:

1. Siswa berbaris dan melakukan gerakan-gerakan sederhana untuk penenangan

2. Evaluasi dan kesimpulan hasil belajar

3. Berdoa

Hal yang perlu diingat bahwa dalam penutup ini siswa diberi kebebasan untuk melakukan pendinginan tanpa harus diatur atau dikomando oleh guru. Fungsi guru hanya mengawasi saja. Dalam penutupan pembelajaran, evaluasi akan dilakukan oleh guru dengan cara bertanya pada siswa tentang apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka temukan. Jawaban siswa dapat bersifat verbal ataupun dengan mendemonstrasikan melalui gerak. Karakteristik yang unik dari model inkuiri adalah didasarkan pada pertanyaan (question-based teaching), dan berbagai strategi yang di dalamnya termasuk merumuskan seperangkat prosedur yang saling berkaitan yang dapat digunakan guru untuk memfasilitasi pemikiran, pemecahan masalah, dan eksplorasi siswa dalam pendidikan jasmani.

Dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri, guru tetap mengontrol hampir keseluruhan pembelajaran. Guru memberikan kerangka permasalahan dengan memberikan sebuah pertanyaan, memberikan siswa kesempatan untuk menciptakan dan mengeksplorasi satu atau lebih solusi, dan kemudian menanyakan siswa untuk mendemonstrasikan solusinya sebagai bukti bahwa telah

berlangsung pembelajaran. Setelah guru membuat kerangka permasalahan dan siswa mulai berpikir dan bergerak, maka siswa yang menentukan bagaimana mereka terlibat untuk mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Sedangkan dalam prosedur pembelajaran inkuiri, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Menurut Joyce and Weil (1980) pembelajaran inkuiri mempunyai lima tahapan, yaitu sebagai berikut:

1) Tahap pertama: Penyajian masalah atau menghadapkan siswa kepada situasi teka-teki. Pada tahap ini guru menyajikan masalah dan menentukan prosedur inkuiri pada siswa (berbentuk pertanyaan yang hendaknya dijawab dengan “ya” atau “tidak”).

2) Tahap kedua: Pengumpulan dan verifikasi data. Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat atau alami.

3) Tahap ketiga: Mengumpulkan unsur baru. Pada tahap ini siswa mengajukan unsur ke dalam suatu situasi untuk melihat perubahan yang

terjadi.

4) Tahap keempat: Meneruskan penjelasan. Pada tahap ini guru mengajak siswa merumuskan penjelasan.

5) Tahap kelima: Mengadakan analisis tentang proses inkuiri. Pada tahap ini siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka.

Sedangkan menurut Sudjana (1989; dalam Trianto 2007:142) ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri yaitu:

a) Tahap pertama : Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa.

b) Tahap kedua : Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis.

c) Tahap ketiga : Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau permasalahan.

d) Tahap keempat: Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi.

e) Tahap kelima: Mengaplikasikan kesimpulan.

4.      Model Mengajar Teman Sebaya

Proses pembelajaran seharusnya menempatkan siswa sebagai subyek mempunyai potensi dasar masing yang dapat berkembang bukan sebagai obyek yang hanya dapat dibentuk semau pendidik. Mereka membutuhkan dorongan eksternasl untuk menumbuhkembangkan potensi internal siswa. Setiap pendidik harus memiliki pemahaman bahwa semua siswa memiliki kelebihan atau potensi yang bervareasi untuk berhasil. Jadi keberhasilan itu merupakan sebuah permata yang dapat menjadi milik semua orang. Keanekaragaman potensi atau kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami sebuah konsep sering menimbulkan masalah, antara lain kadang ada siswa yang sangat cepat memahami dan ada yang merasakan kesulitan tetapi merekan segan bahkan merasa takut untuk bertanya kepada guru, apa lagi kalau guru tersebut kurang menyenangkan. Kesulitan yang dialami oleh sekelompok siswa tersebut dapat diatasi dengan cara melibatkan teman sebayanya dalam pembelajaran atau guru menerapkan pembelajaran dengan metode tutor sebaya.

Yang dimaksud tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa-siswa tertentu yang mengalami kesulitan memahami materi dalam belajar. Bantuan yang diberikan oleh teman sebaya pada umumnya dapat memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini terjadi karena hubungan antar siswa terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan antara siswa dan guru (Moh. Surya, 1985). Tutor sebaya adalah suatu model pendekatan bimbingan dimana satu anak (tenaga ahli) mengarahkan anak yang lain (orang baru ataupun kurang ahli) dalam suatu materi tertentu. Tutor sebaya terjadi ketika tenaga ahli (tutor) dan orang baru (tutee) memiliki kesamaan atau kesetaraan usia. Dikemukakan Damon dan Phelp (Kalkowsky, 2004:1). Menurut M. Sobry Sutikno (2007), beliau mengatakan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dianjurkan agar pendidik membiasakan diri menggunakan komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi, yakni komunikasi yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara pendidik dengan siswa melainkan juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu denga siswa yang lainnya. Kunandar (2007) mengatakan bahwa metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. Kemudian Hamzah B. Uno (2007) mengatakan bahwa metode pertemuan adalah model pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangun suatu kelompok social yang saling menyayangi, saling menghargai, mempunyai kedisiplinan yang tinggi, dan komitmen berprilaku positif. Oleh karena itu guru selalu disarankan agar dapat melaksanakan pembelajaran dalam kelompok –kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lambat/lemah, yang tahu member tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap/mengerti mendorong temannya yang lambat , yang mempunyai gagasan segera member usul , dan seterusnya (Trianto, 2007) Teori Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif anak sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Sementara Nur (dalam Trianto, 2007) menyatakan bahwa interaksi sosial.

Jadi Pembelajaran dengan bantuan tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang melibatkan siswa menjadi pengajar setelah dipilih oleh guru berdasarkan kriteria tertentu yang didukung dengan prestasinya yang lebih tinggi dari kelompoknya untuk membantu teman-temanya sendiri yang mengalami kesulitan belajar. Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu belajar Olahraga , bahasa atau pelajaran lainnya, baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperoleh atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

II. Peran dan Manfaat Pembelajaran Metode Tutor Sebaya

a.       Peran Tutor Sebaya dalam menyelesaikan Tugas-tugas gerak dalam Olahraga , pengajaran tutor sebaya sering digunakan untuk membantu para siswa yang lambat menyelesaikan latihan atau untuk memberikan tambahan bimbingan bagi semua peserta didik yang kurang dalam menyelesaikan tuntutannya. Ternyata para siswa yang lambat menguasai gerak sangat gembira dan bersemangat. Artinya pembelajaran system tutor sebaya ini dapat menggairahkan siswa belajar khususnya Olahraga

b.      Manfaat peran tutor sebaya : • Memberikan pengaruh positif, baik dalam pendidikan dan sosial pada guru, dan tutor sebaya. • Merupakan cara praktis untuk membantu secara individu dalam menyelesaikan tugas gerak • Pencapaian kemampuan menyelesaikan gerakan dengan bantuan tutor sebaya hasilnya bisa menjadi di luar dugaan atau lebih baik. • Jumlah waktu yang dibutuhkan peserta didik untuk menyelesaikan materi gerakan akan meningkat secara signifikan, bergantung pada kualitas tutor sebaya yang digunakan. Dengan strategi ini para siswa yang lemah akan mengambil manfaat dari perhatian yang tak terbagi dari guru. Guru sering tidak punya cukup waktu untuk memberikan bantuan individu seperti ini kepada tiap peserta didik. Itulah sebabnya dengan adanya turor sebaya, maka para guru dan siswa yang kurang akan merasa sangat terbantu. Namun, ini harus dijelaskan dengan seksama kepada tutor sebaya tentang hal apa saja yang harus mereka lakukan. Tutor harus mengetahui harapan kepada mereka. III. Kriteria, Keuntungan, hakikat partisipasi Tutor Sebaya dalam pembelajaran a. Kriteria dan Keuntungan Tutor Sebaya Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) merupakan salah satu dari empat pilar yang ditetapkan oleh UNESCO. Learning to do dapat terwujud manakala sipembelajar (siswa) difasilitasi untuk mengatualiasasikan kompetensi, bakat, dan minat yang mereka miliki. Penerapan metode tutor sebaya dalam pembelajaran akan dapat mendukung pilar belajar Learning to do, jika siswa yang dipilih menjadi tutor memenuhi kriteria-kriteria yang betul. Kriteria-kriteria yang dimaksud adalah seperti pendapat pakar berikut. Ada empat kriteria menjadi tutor sebaya yang ditawarkan oleh Moh. Surya (1985), yaitu: 1) tutor membantu murid/siswa yang kesulitan berdasarkan petunjuk guru, 2) murid/siswa yang dipilih sebagai tutor hendaknya diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan membantu orang lain, 3) dalam pelaksanaannya, tutor-tutor ini dapat membantu teman-temannya baik secara individual maupun secara kelompok sesuai petunjuk guru, 4) tutor dapat berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan kelompok, dalam hal tertentu dia dapat berperan sebagai pengganti guru. Kesimpulannya bahwa siswa yang dapat ditunjuk sebagai tutor harus memiliki criteria yang jelas yaitu siswa yang memiliki keunggulan kompetensi dibandingkan dengan siswa lain di kelasnya. Selanjutnya, Moh. Surya (1985) juga menguraikan bahwa keuntungan metode tutor sebaya adalah 1) adanya suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab antara murid/siswa yang dibantu dengan murid/siswa sebagai tutor yang membantu, 2) bagi tutor sendiri sebagai kegiatan remedial yang merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar, 3) bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak siswa dibantu, dan 4) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Dari uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa metode tutor sebaya dapat menimbulkan sebuah kekuatan/penguatan (reinforcement) baik bagi siswa yang dibantu maupun siswa yang membantu dalam mengkonstruksi pengetahuan/konsep, karena tutor sebaya dibangun dengan jalinan kedekatan dari kasih sayang. Dengan demikian penerapan metode tuto sebaya dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Tutor harus bekerja dengan peserta didik yang lebih muda dengan cara yang tenang dan penuh kooperatif, ramah, jujur, dan terhindar dari gangguan. Berikut ini contoh teknik strategi tutor sebaya dalam menyelesaikan materi penjas, antara lain: Teknik Passing. Guru mata pelajaran mengajarkan kepada tutor tekhnik membantu siswa yang kurang, sebagai berikut: a) mengajarkan sikap yang benar dalam pasing, penempatan bola dan ayunan tangan b) Memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang untuk menyelesaikan sendiri tugas tersebut, bantuan seperlunya dari tutor. c) Guru mata pelajaran memantau kegiatan tutor seperlunya. d) Tutor diberi kesempatan memimpin Pembelajaran untuk pembahasan penyelesaian materi penjas.

5.      Direct Instruction/ Model Pengajaran Langsung

Dasar teori: model ini mengambil filosofi dasar dari aliran behavioralistik dimana stimulus dan respon memegang peranan penting. Siswa diajarkan untuk melakukan kegiatan yang benar dengan kontrol yang ketat. Model ini menuntut siswa melaksanakan apa yang direncanakan oleh guru dengan konsekeuensi adanya “reward”. Guru adalah model yang baik dan harus sangat menguasai materi yang diberikan kepada siswa. Adalah sebuah kesalahan ketika menempatkan guru sebagai dewa yang tidak pernah salah. Cara ini akan sangat baik ketika tingkat penguasaan guru terhadap materi, siswa, lingkungan, skenario sangat-sangat “exelence”. Arti mengajar bagai guru dan belajar bagi siswa. Bagi guru: Guru adalah sumber utama dari semua perencanaan yang ada, Guru menentukan isi, tempat, aktivitas belajar dan peningkatan pembelajaran, Guru harus dapat mentranser ilmu dengan efektif dan efisien, Guru harus dapat memanfaatkan semua sumber yang ada untuk terlaksananya proses belajar, Guru disamping merencanakan juga merupakan pelaksana dari perencanaan yang diimplementasikan kepada siswa.

Bagi siswa: Siswa belajar dari hal yang mudah ke sukar, sederhana ke komplek, Siswa harus dengan jelas mengerti tugas yang menjadi bahan ajar dan dipelajari termasuk kreteria keberhasilan, Belajar merupakan konsekuensi yang akan ada “reward”, Siswa membutuhkan banyak bantuan dalam mempelajari bahan yang dipelajari, Dalam belajar siswa berhak untuk mendapatkan umpan balik agar terjadi proses belajar dengan benar.

a.      Keahliah Guru dan Analisis Kontek

Domain belajar yang diutamakan secara berurutan sebagai berikut: Pertama: Psikomotor, Kedua: Cognitif, Ketiga: Affectif. Siswa lebih banya waktu untuk melakukan praktek, Praktek harus sesuai dengan tujuan dan belajar secara lebih individu meskipin itu dalam kelompok, Siswa yang latihan akan lebih mendapatkan keberhasilan yang tinggi, Guru yang efektif harus mendesain agar menciptakan lingkungan belajar, Guru yang efektif adalah guru yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, Perkembangan isi pelajaran harus meningkatkan pembelajaran.

b.      Penilainan Proses Belajar Mengajar

Penilaian terdiri atas formal dan informal; Formal dilakukan dengan melakukan: Siswa diberikan daftar keberhasilan pencapaian belajar dari setiap materi yang dipelajari, ketika telah mencapai bahan yang telah dipelajari baru kemudian dapat naik pada meteri berikutnya, Dilakukan tes secara periodik, dengan test, quizzes, oral test, skill test dengan kreteria yang telah dibuat baik acuan norma atau patokan, Pengamatan terhadap kemempuan siswa, ketika dianggap bisa baru melanjutkan pada tahap berikutnya, Observasi yang dilakukan oleh sesama siswa, Informal: Jika siswa 80% sudah menguasai maka pelajaran dilanjutkan pada tingkatan selanjutnya, Guru memonitor secara sampling terhadap kinerja siswa.

c.       Modifikasi Instruksional Untuk Pendidikan Jasmani

Metode ini sebenarnya paling baik didesain untuk pembelajaran keterampilan konsep dan gerak dasar, ketika ingin mengembangkan afektif ataupun kognitif penggunaan model ini tidak akan begitu efektif. Pembelajaran yang dapat menggunakan model ini. Model ini akan baik jika dipergunakan untuk materi-materi sebagai berikut: Olahraga individu, Olahraga team (tetapi khusus untuk pemula dan menengah), Menari, Aerobik (semua pembelajaran yang membutuhkan bantuan guru secara langsung), Olahraga yang gerakannya diulang-ulang (angkat beban, senam, streaching), Olahraga non-kompetisi.

Merupakan model pembelajaran yang paling dikenal dimana guru secara langsung menyusun, mengarahkan, membimbing dan mengevaluasi apa yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Model ini dapat dikatakan dengan slogan “ guru bicara siswa melaksanakan” atau “guru punya perintah siswa punya capek”. Dalam model ini peranan guru mencapai 80% dimulai dari menyiapkan bahan, memberikan skill, memberikan contoh, memberikan feedback, bahkan sampai langkah yang dilakukan oleh siswa dikontrol oleh guru. Terkesan dalam metode ini guru adalah tuhan yang menentukan apa dan semua yang akan dipelajari serta memberi kabel kepada siswa status keberhasilan belajar. Proses belajar mengajar berlangsung satu arah dengan guru sebagai komandan dan siswa sebagai pelaksana. Domain yang menjadi urutan dalam model ini adalah psikomotor, kognitif baru afektif. Meskipun cara ini sebagai cara yang dianggap kuno tetapi cara ini banyak dipakai karena alasan praktis mudah dan memang cara yang sudah turun-temurun diperoleh, dengan cara ini guru dapat mengontrol belajar siswa dan menguasai semua lini. Lemahnya cara ini ketika guru tidak kompeten maka akan mengakibatkan PBM tidak berjalan dengan baik. Cara ini juga dapat dikatakan dengan ibaratnya “dilaksanakan seperti membuka buku sampai dengan menutup kembali pada halaman akhir” merupakan tugas guru.

Secara filosofi model ini didasarkan pada teorinya Skinner sebagai aliran behavioral yang kental dengan adanya stimulus dan respon. Sehingga model ini akan banyak adanya rangsangan dan ”hadiah” sebagai akibat dari respon yang diberikan dan dikenal istilah reward dan punishment. Ketika siswa melakukan hal yang baik maka guru akan memberikan reward potitif, dan ketika melakukan hal yang salah maka akan diberikan reward negatif. Proses belajar mengajar mengukuti alur sebagai berikut Shaping, modeling, practice, feedback, and reinfocement (metzler: 165). Model ini dalam mendidik siswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor memang mengkhususkan diri mendidik diutamakan adalah mendidik psikomotor, kognitif baru orientasi ketiga afektif. Sehingga ketika ingin membelajarkan anak untuk belajar gerak dengan materi tertentu dan akan menuntut kualitas maka pakailah model ini.

Dasar teori, dari kajian kurikulum pendididikan jasmani sport education memiliki pengertian, Sport education is a curriculum that can be espanded far beyond the scholl to encompass many sport activities throughout the community (Jewet: 171). Dan hal ini sejalan juga dengan model pembelajaran yang menganut sport education model. Dari sisi kurikulum menjadikan sport education model sebagai kerangka besar dan dari model pembelajaran juga disediakan model dengan istilah yang sama. Beberapa kurikulum pendidikan jasmani yang dikenal antara lain sport education, Fitnes education, personal meaning, movement Analysis, Development model.

Dasar teori yang dipergunakan dalam model ini (sport education) adalah seperti apa yang diungkapkan oleh Darly Siedentop dimana diambil filosifi bahwa olahraga adalah bentukan dari permainan/bermain. Dengan memberikan suatu tempat yang khusus pada masyarakat dan telah berkembang sesuai dengan sejarah dan global. Jika olahraga diterima sebagai sebuah bentuk dari bermain maka nilai terkandung akan membetuk masyarakat dan secara resmi merupakan proses bagaimana orang datang dan belajar untuk berpartisipasi dalam budaya olahraga. Budaya yang dimaksud adalah pelaksanaan nilai dan tatacara yang terkandung dalam olahraga. Sport education diadaptasi dengan adanya pertandingan-pertandingan, sehingga siswa akan memiliki jiwa yang sportit, belajar nilai, skill, ritual, peraturan, tradisi dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Sehingga ketika menerapkan pembelajaran model ini hal yang terpenting adalah mendesain pembelajaran sampai pada kompetisi. Siswa diberi kesempatan untuk mengambil bagian, berperan mengambil bagian pada hal yang diminati dan dapat dilakukan. Tidak semua siswa mampu menjadi atlet, sehinga siswa yang kurang menyukai keterlibatan langsung dapat berperan dan belajar dengan menjadi wasit, hakim garis, P3K, pemandu sorak, suporter yang baik, pencari data, menejer, pelatih, asisten pelatih, tukang pijat dan masih banyak bagian lagi yang kesamuanya dilakukan untuk proses pembelajaran. Ciri utama dari model ini adalah adanya kompetisi dan siswa diajak untuk berfikir bagaimana caranya agar kita dapat mengikuti, merasakan, melaksanakan, terlibat dalam kompetisi dengan segalam adat istiadat kecabangan yang diikuti. Model ini dapat dipergunakan untuk siswa kelas 4 sekolah dasar ke atas. Arti mengajar bagai guru dan belajar bagi siswa, bagi guru: Diperlukan penggabungan atau kombinasi penggunaan strategi, fasilitas dan variasi dalam belajar. Strategi ini termasuk direct teaching, cooperative, peer, small group teaching. Guru harus mengkondisikan adanya pertandingan (musim kompetisi) untuk siswa. Guru mengarahkan siswa tentang nilai, tradisi yang berhubungan dengan kecabangan yang diikuti. Guru harus merencanakan agar siswa dapat terfasilitasi agar mendapat kesempatan untuk belajar dan bertanggungjawab dalam mengambil peranan dalam sesi kompetisi.

Aktivitas belajar Domain
Membuat keputusan organisasi (siswa sebagai event organiser) Kognitif

afektifLatihan (siswa sebagai pemain)Psikomotor

Kognitif

affektifLatihan (siwa sebagai pelatih)Kognitif

Affektif

psikomotorSelama bermain (siswa sebagai pemain)Psikomotor

Kognitif

affektifSelama bermain (siswa sebagai pelatih)Kognitif (strategi, taktik)

Affektif (kepemimpinan),

psikomotorDst tergantung keterlibatan siswa dalam kompetisi/pertandingan…

Bagi siswa: Dengan bimbingan dan fasilitasi dari guru siswa membuat banyak keputusan apa yang harus dilakukan dan bertanggungjawab atas keputusan tersebut. Kesempatan untuk siswa agar mempelajari setiap kejadian dan masuk dalam pengambilan keputusan. Siswa bekerjasama dalam susunan team untuk mencapai tujuan. Mempelajari olahraga dengan Aktif, dan sebagai partisipan.

Siswa dapat memperkirakan perkembangannya dengan baik untuk mereka sendiri tetapi terkadang dibutuhkan bimbingan dari guru. Model ini sungguh memberikan hal yang nyata dari pengalaman olahraga yang secara umum disusun dengan setting keikutsertaan aktif dalam kompetisi olahraga.

d.      Keahliah Guru dan Analisis Kontek

Dalam model ini aspek yang dikembangkan secara berurutan: Dalam model ini domain yang dikembangkan tergantung dari apa yang ditekankan dan dalam setiap bagian, sehingga model ini adalah model yang mengembangkan semua ranah dalam domain kognitif, afektif dan psikomotor. Hal ini terjadi karena model ini dalam pelaksanaannya diperlukan penggabungan/kombinasi dari model-model pembelajaran yang lain. Sehingga dapat sedikit dicontohkan bagimana kontek pengembangan domain ini tergantung dari aktivitas belajar yang dilakukan atau peran apa yang diambil siwa untuk mensukseskan kompetisi/pertandingan:

Penilainan proses belajar mengajar, Penilaian dalam model ini lebih banyak menekankan pada proses, proses bagaimana siswa berusaha untuk menguasai nilai dan tradisi dari kompetisi kecabangan. Sehingga masuk di dalamnya juga penilaian terhadap keterampilan dasar, pengetahuan peraturan dan strategi, kinerja ketika pertandingan dan penguasaan taktik, keanggotaan dalam team, tingkahlaku yang baik. Modifikasi instruksional untuk pendidikan jasmani. Model ini sangat terbuka luas untuk diadakan modifikasi dan model ini menerima semua jenis modifikasi. Hal utama yang membedakan model ini dengan model lain terletak pada harus adanya kompetisi sebagai suatu titik kultimasi dari pelajaran yang sedang dilaksanakan. Sehingga semua modifikasi tentang peraturan, peralatan, lapangan, latihan fisik, program semua diterima dalam model ini. Yang tidak diterima adalah tidak ada kompetisi.

e.       Skenario Model Dalam Sport Education

Ketika sekolah telah menetapkan model ini maka diharapkan seluruh sekolah konsekuen dengan kegiatan yang dilaksanakan. Guru menyusun rencana kecabangan yang akan dipetandingkan atau dikompetisikan pada akhir periode waktu ajar. Guru menentukan apa saja yang diperlukan untuk mensukseskan kompetisi tersebut, berdasarkan hal ini diberikan kepada siswa dan siswa dengan kemampuan masing-masing berusaha untuk mengambil peran yang dapat dilaksanakan. Dalam hal ini proses PBM yang mengajarkan keterampilan teknik ataupun taktik setiap siswa harus mengikuti, yang menjadi hal bahwa model ini berbeda adalah siswa mengambil peran dan memperdalam ke salah satu satu bagaian dari yang dibutuhkan untuk kepentingan pelaksanaan kompetisi. Selama proses pembelajaran dan kegiatan yang berhubungan dengan kecabangan siswa berkegiatan agar memperdalam keahliannya yang pada akhirnya dipertunjukkan dalam kompetisi agar kompetisi berjalan sukses. Sehingga dalam prakteknya setiap siswa tidak akan sama hal yang dikembangkan (kognitif, afektif dan psikomotor). Untuk siswa yang memilih menjadi pelatih maka dia harus mengembangkan kemampuan dan memperkuat kognitif afektif dan tentunya mensyaratkan psikomotor yang baik. Ketika siswa memilih untuk menjadi pemain maka psikomotor yang akan didalami. Dalam model ini sekolah yang menggunakannya seperti akan memiliki tradisi, tradisi untuk berlatih belajar dan akhirnya bertanding dengan mengembangkan semua ranah dalam pendidikan. Peran apa yang akan diambil oleh siswa? Bagaimana mengembangkannya? Merupakan pekerjaan pengembangan dalam pembalajaran dan pembelajaran tambahan yang akan menuntut persiapan dan keseriusan dari sekolah.

6.        Model Tanggung Jawab Pribadi dan Sosial

A.    Model Hellison

Salah satu model pembelajaran pendidikan jasmani yang termasuk dalam katagori model rekonstruksi social adalah model Hellison, (1995), yang berjudul Teaching Responsibility Through Physical Activity. Pembelajaran pendidikan jasmani dalam model ini lebih menekankan pada kesejahteraan individu secara total, pendekatannya lebih berorientasi pada siswa, yaitu self-actualization dan social reconstruction. Steinhart mengatakannya sebagai model humanistic. Model pembelajaran pendidikan jasmani dari Hellison ini diberi nama level of affective development. Tujuan model Hellison ini adalah meningkatkan perkembangan personal dan responsibility siswa dari irresponsibility, self control, involvement, self direction dan caring melalui berbagai aktivitas pengalaman belajar gerak sesuai kurikulum yang berlaku. Hellison dalam bukunya ini mengungkap beberapa bukti keberhasilan modelnya dalam mengatasi masalah pribadi dan sosial siswa. Namun demikian Ia juga menyadari akan beberapa kritik yang dilontarkan terhadap modelnya ini misalnya produk social dan personal dari model ini walaupun penting namun tidak berhubungan secara spesifik dengan subjek mater pendidikan jasmani seperti keterampilan olahraga atau kebugaran tetapi bersifat umum berlaku juga pada pelajaran lain. Model Helison ini sering digunakan untuk membina disiplin siswa (self-responsibility) untuk itu model ini sering digunakan pada sekolah-sekolah yang bermasalah dengan disiplin siswanya. Hellison mempunyai pandangan bahwa: perubahan perasaan, sikap, emosional, dan tanggung jawab sangat mungkin terjadi melalui penjas, namun tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan ini sangat mungkin terjadi manakala penjas direncanakan dan dicontohkan dengan baik dengan merefleksikan qualitas yang diinginkan. Potensi ini diperkuat oleh keyakinan Hellison bahwa siswa secara alami berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang baik dan penghargaan ekstrinsik adalah “counter productive”. Melalui model ini guru berharap bahwa siswa berpartisipasi dan menyenangi aktivitas untuk kepentingannya sendiri dan bukannya untuk mendapatkan penghargaan ekstrinsik. Fair play dalam penjas akan direfleksikan dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu pada dasarnya model Hellison ini dibuat untuk membantu siswa mengerti dan berlatih rasa tanggung jawab pribadi (self-responsibility) melalui pendidikan jasmani.

1.  Tanggung Jawab Pribadi Rasa tanggung jawab pribadi yang dikembangkan dalam model ini terdiri dari lima tingkatan, yaitu level 0, 1, 2, 3, dan level 4. a) Level 0: Irresponsibility Pada level ini anak tidak mampu bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya dan biasanya anak suka mengganggu orang lain dengan mengejek, menekan orang lain, dan mengganggu orang lain secara fisik. Contoh lain misalnya: di rumah: menyalahkan orang lain di tempat bermain: memanggil nama jelek terhadap orang lain di kelas: berbicara dengan teman saat guru sedang menjelaskan dalam Penjas: mendorong orang lain pada saat mendapatkan peralatan olahraga. b) Level 1: Self-Control Pada level ini anak terlibat dalam aktivitas belajar tetapi sangat minim sekali. Anak didik akan melakukan apa-apa yang disuruh guru tanpa mengganggu yang lain. Anak didik nampak hanya melakukan aktivitas tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Sebagai contoh misalnya: di rumah: menghindari dari gangguan atau pukulan dari saudaranya walaupun hal itu tidak disenanginya. di tempat bermain: berdiri dan melihat orang lain bermain di kelas: menunggu sampai datang waktu yang tepat untuk berbicara dengan temannya. dalam Penjas: berlatih tapi tidak terus-menerus. c) Level 2: Involvement Anak didik pada level ini secara aktif terlibat dalam belajar. Mereka bekerja keras, menghindari bentrokan dengan orang lain, dan secara sadar tertarik untuk belajar dan untuk meningkatkan kemampuannya. Sebagai contoh misalnya: di rumah: membantu mencuci dan membersihkan piring kotor di tempat bermain: bermain dengan yang lain di kelas: mendengarkan dan belajar sesuai dengan tugas yang diberikan dalam Penjas: mencoba sesuatu yang baru tanpa mengeluh dan mengatakan tidak bisa d) Level 3: Self-responsibility Pada level ini anak didik didorong untuk mulai bertanggung jawab atas belajarnya. Ini mengandung arti bahwa siswa belajar tanpa harus diawasi langsung oleh gurunya dan siswa mampu membuat keputusan secara independen tentang apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Pada level ini siswa sering disuruh membuat permainan atau urutan gerakan bersama temannya dalam suatu kelompok kecil. Kegiatan seperti ini sangat sulit dilakukan oleh siswa pada level sebelumnya. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk berargumentasi daripada untuk melakukan gerakan bersama-sama. Beberapa contoh perilaku siswa pada level tiga ini misalnya: di rumah: membersihkan ruangan tanpa ada yang menyuruh di tempat bermain: mengembalikan peralatan tanpa harus disuruh di kelas: belajar sesuatu yang bukan merupakan bagian dari tugas gurunya dalam Penjas: berusaha belajar keterampilan baru melalui berbagai sumber di luar pelajaran Pendidikan Jasmani dari sekolah. e) Level 4: Caring. Anak didik pada level ini tidak hanya bekerja sama dengan temannya, tetapi mereka tertarik ingin mendorong dan membantu temannya belajar. Anak didik pada level ini akan sadar dengan sendirinya menjadi sukarelawan (volunteer) misalnya menjadi partner teman yang tidak terkenal di kelas itu, tanpa harus disuruh oleh gurunya untuk melakukan itu. Beberapa contoh misalnya: di rumah: membantu memelihara dan menjaga binatang peliharaan atau bayi. di tempat bermain: menawarkan pada orang lain (bukan hanya pada temannya sendiri) untuk ikut sama-sama bermain. di kelas: membantu orang lain dalam memecahkan masalah-masalah pelajaran. dalam Penjas: antusias sekali untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam Penjas.

2) Strategi pembelajaran

Terdapat tujuh strategi pembelajaran yang digunakan Hellison dalam mengajar tanggung jawab pribadi melalui penjas, yaitu:

a) Penyadaran (awarness)

b) Tindakan

c) Refleksi

d) Keputusan pribadi

e) Pertemuan kelompok

f) Konsultasi

g) Kualitas pengajar

Strategi penyadaran dan tindakan dimaksudkan untuk menyadarkan siswa tentang definisi tanggung jawab baik secara kognitif maupun dalam bentuk tindakan. Strategi refleksi dimaksudkan untuk membantu siswa mengevaluasi sendiri mengenai komitmen dan tandakan rasa tanggung jawabnya. Strategi keputusan pribadi dan pertemuan kelompok dimaksudkan untuk memberdayakan siswa secara langsung dalam membuat keputusan pribadi dan kelompoknya. Strategi konsultasi dan kualitas mengajar dimaksudkan untuk menyediakan beberapa struktur dan petunjuk bagi siswa untuk dapat berinteraksi mengenai kaulitas rasa tnggung jawab yang dikembangkannya.

3) Contoh Bentuk Latihan Levels of Affective Development Pembinaan rasa tanggung jawab melalui pendekatan model Hellison dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran Penjas dan berlangsung secara terus menerus semenjak awal hingga akhir tahun ajaran. Penjelasan tentang tingkat perkembangan rasa tanggung jawab pribadi yang terdiri dari lima tingkatan tersebut di atas terlebih dahulu harus diberikan yang selanjutnya diikuti oleh latihan-latihan. Beberapa contoh latihan dalam Levels of Affective Development sebagai berikut.

a) Pada kasus mengambil peralatan olahraga. Guru menanyakan dan menyuruh siswa tentang bagaimana perilaku seseorang pada level 0, level 1, 2, 3, dan 4 pada waktu mengambil peralatan itu.

b) Pada saat belajar keterampilan baru (new skill), siswa disuruh bekerja pada level yang paling baik. Selanjutnya guru memberikan penghargaan, pujian, atau pinpointing terhadap siswa yang bekerja lebih baik.

c) Pada saat siswa berperilaku menyimpang, siswa tersebut mendapat “time out” dan diberi tugas untuk memikirkan mengapa perilaku menyimpang adalah level 0. Selanjutnya setelah siswa tahu perilaku siswa pada level 1 atau level yang lebih tinggi serta cukup meyakinkan guru bahwa ia mampu berperilaku pada level yang lebih tinggi, maka gurunya mengijinkan siswa itu untuk kembali mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.

d) Pada saat siswa mengeluh tentang perbuatan siswa yang lainnya, guru menyuruh anak yang mengeluh itu untuk mengidentifikasi pada level mana perbuatan siswa yang dikeluhkan tersebut serta bagaimana cara-cara bergaul dengan siswa yang dikeluhkan tersebut.

e) Pada kasus kerja kelompok. Sebelum melakukannya guru dan siswa mendiskusikan bagaimana perilaku siswa pada level 4 dalam bekerja sama pada sebuah group. Topik diskusi adalah bagaimana bekerja sama dengan siswa yang mempunyai level 0 dan level 1.

4) Evaluasi Levels of Affective Development Program evaluasi dalam model ini merupakan masalah tersendiri terutama bagi para guru yang belum terbiasa melakukan penilaian kualitatif. Selain penilaian yang berhubungan dengan keolahragaan dan pendidikan jasmaninya. Beberapa bentuk penilaian yang berhubungan dengan rasa tanggung jawab ini dan seringkali menjadi focus utama adalah sebagai berikut,

a) catatan harian

b) observasi

c) refleksi siswa

d) tes pengetahuan rasa tanggung jawab

e) wawancara dengan orang lain

B.     Model Canter’s Asertif

Selain model Hellison sebagaimana tersebut di atas, terdapat model lain dalam pendidikan jasmani yang sering digunakan secara terintegrasi untuk mengembangkan disiplin siswa dengan strategi yang relative sama, yaitu model disiplin assertif. Model ini dikembangkan oleh Canter (1976). Ia membuat model pembinaan disiplin dengan nama Canter’s Assertive Discipline. Perbedaan model yang dikembangkan oleh Hellison dan Canter terutama terletak pada motivasi yang dijadikan landasan untuk mengembangkan didiplin siswa. Model Hellison lebih menekankan pada motivasi intrinsic yang dilandasi pada keyakinan bahwa: siswa secara alami berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang baik dan penghargaan ekstrinsik adalah “counter productive”. Sementara itu, model Canter lebih menekankan pada motivasi ekstrinsik, seperti penghargaan, pujian, dan dorongan, termasuk konsekuensi.

1) Model ini didasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut:

a)  Semua siswa dapat berperilaku baik

b)  Pengawasan yang ketat atau kokoh akan tetapi tidak pasif dan tidak menakutkan adalah layak untuk diberikan.

c)  Harapan atau keinginan guru yang rasional mengenai perbuatan siswa yang sesuai dengan perkembangannya (seperti dibuat dalam peraturan) harus diberitahukan kepada siswa.

d) Guru harus mengharapkan siswa berperilaku secara layak dan pantas namun harus mendapat dukungan dari orang tua siswa, guru lain, dan kepala sekolah.

e) Tingkahlaku siswa yang baik harus segera didukung atau dihargai sementara tingkahlaku yang tidak baik harus mendapat konsekuensi yang logis.

f)  Konsekuensi logis akibat penyimpangan perilaku harus ditetapkan dan disampaikan kepada siswa.

g)   Konsekuensi harus dilaksanakan secara konsisten tanpa bias.

h) Komunikasi verbal dan non verbal harus disampaikan dengan kontak mata antara guru dan siswa.

i) Guru harus melatih keinginan-keinginan atau harapkan-harapan dan konsekuensi secara mental dengan konsisten kepada siswa.

2) Contoh harapan yang dituangkan dalam bentuk peraturan dikembangkan di Riverside Elementary School oleh Bell (1995).

1) menghargai orang lain (respect for others)

2) bermain jujur (play fair)

3) bermain dengan tidak membahayakan (play safely)

4) lakukan yang terbaik (do your best)

5) ikuti petunjuk guru (follow directions)

3) Contoh konsekuensi (Hill, 1990) sebagai berikut:

1) peringatan

2) time-out 5 menit

3) time-out 10 menit

4) memanggil orang tua siswa

5) mengirim siswa ke kepala sekolah

4) Ciri Keberhasilan Model Hellison dan Canter Assertive.

Pertanyaan yang sering muncul dilontarkan oleh para pendidik Penjas adalah model mana yang paling efektif digunakan? Apakah model yang didasarkan pada motivasi ekstrinsik (assertive discipline) atau motivasi instrinsik (levels of affective development)? Pertanyaan ini agak sulit dijawab karena nampaknya keberhasilan pembinaan disiplin bukan terletak pada jenis model yang digunakan akan tetapi terletak pada bagaimana karakteristik model yang digunakan tersebut. Paling tidak ada empat karakteristik model pembinaan disiplin yang dapat dikatakan berhasil, yaitu sebagai berikut:

a) Siswa betul-betul memahami dan mengerti pelaksanaan sistem pembinaan disiplin berikut alasan-alasan mengapa pembinaan disiplin perlu diterapkan. Oleh karena itu hendaknya sistem pembinaan disiplin dijelaskan secara teliti dan hati-hati kepada siswa. Selanjutnya diikuti oleh contoh-contoh yang jelas dan latihan-latihan secara memadai yang dimulai dari setiap awal tahun ajaran. Sehingga siswa akan mengerti mengapa pembinaan disiplin sangat penting dan siswa juga mengerti bagaimana pembinaan disiplin itu diterapkan.

b) Guru secara konsisten menerapkannya. Sekali kegiatan rutin dan peraturan diterapkan, maka guru harus terus menerapkan dan menggunakan standar yang sama dari hari ke hari, sehingga siswa akan mengerti dan memahami betul apa-apa yang sebenarnya diharapkan (expectations) oleh gurunya. Hal ini sangat mudah dikatakan tetapi sangat sulit diterapkannya. Guru lebih cenderung menerapkan sistem pembinaan disiplin ini hanya pada awal-awal pertemuan saja. Misal: pada awal-awal pertemuan, pada saat guru bilang “stop”, semua siswa meletakkan bola yang dipegangnya. Namun demikian, setelah beberapa pertemuan, seorang siswa tidak meletakkan bola setelah gurunya bilang “stop” dan guru mengabaikannya. Dalam contoh itu, guru kurang konsisten dalam menerapkan sistem pembinaan disiplin. Secara bertahap, bagaimanapun, hal ini menjadi bertambah banyak: dua siswa, tiga siswa, enam siswa yang akhirnya pembinaan disiplin mejadi pudar kembali.

c) Sistem pembinaan disiplin itu didukung oleh kepala sekolah dan guru kelas. Pada saat tertentu mungkin guru Penjas akan menemukan siswa yang tidak disiplin; siswa tidak mau menerapkan peraturan dan penghargaan maupun “time out” tidak berpengaruh terhadap disiplin siswa tersebut. Dalam kesempatan itu, guru Penjas memerlukan bantuan kepala sekolah dan guru kelas. Mereka mungkin menyadari dan mengetahui mengapa siswa berbuat seperti itu dan bagaimana strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Oleh karena itu maka salah satu konsekuensi bagi siswa yang berperilaku menyimpang adalah harus berhadapan dengan kepala sekolah yang mungkin akan dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh guru Penjas.

d) Sistem pembinaan disiplin itu harus didukung oleh orang tua siswa. Seperti halnya bantuan kepala sekolah dan guru kelas, manakala orang tua siswa mengetahui dan mendukung sistem pembinaan disiplin yang digunakan oleh guru Penjas, maka orang tua siswa akan cenderung mau membantu guru Penjas dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa dari orang tua tersebut.

5) Menghadapi Kenyataan Pembahasan dalam uraian sebelumnya lebih banyak menyoroti bagaimana mengurangi masalah disiplin siswa. Namun demikian, kebanyakan guru, bahkan dalam situasi yang ideal sekalipun, mungkin harus merasakan dirinya terpaksa menerima kenyataan mendapatkan seorang atau beberapa siswa yang kurang disiplin. Sudah barang tentu hal ini akan menimbulkan perasaan marah atau menyakitkan bagi gurunya. Sehubungan dengan itu ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh para guru untuk mengurangi rasa kecewa atau marah tersebut sehingga bisa menguntungkan baik bagi guru maupun siswanya:

a) Mencoba menyadari bahwa perilaku menyimpang bukan sifat perorangan: semua orang dalam kondisi tertentu bisa saja berbuat hal yang sama. Untuk itu cobalah untuk tidak marah atau menyesal: ambilah nafas dalam-dalam dan selanjutnya perlakukan anak tersebut sebagaimana mestinya.

b) Lakukan pendekatan secara pribadi. Dari pada guru berteriak-teriak memarahi siswa yang tidak disiplin dari kejauhan sementara siswa yang lainnya menonton dan mendengarkan kejadian tersebut, maka lebih baik guru melakukan pendekatan secara pribadi. Dekati siswa yang kurang disiplin tersebut, panggil ke pinggir lapangan, dan lakukan interaksi singkat sehingga siswa lain tidak mengetahuinya dan tetap melakukan aktivitas belajar sebagaimana mestinya. Kalau pilihan yang ke dua itu sering dilakukan oleh gurunya, maka bukan hal yang mustahil siswa akan mempunyai pikiran yang positif terhadap lingkungan belajar Penjas yang diperolehnya di sekolah.

c) Penjelasan kepada siswa. Gunakan nama siswa untuk memanggil siswa itu, jelaskan kepada siswa peraturan yang dilanggar secara perlahan dan menyakinkan dan berilah kesempatan untuk berpikir. Beri kesempatan untuk megemukakan pendapatnya, perhatikan pendapat siswa dengan penuh perhatian dan peghargaan, dan berusaha untuk mengerti apa maksudnya. Setelah selesai interaksi, guru menyimpulkan sambil memberitahu konsequensi yang harus dilakukan akibat penyimpangan perilaku yang diperbuatnya.

d) Usahakan jangan pernah marah kepada siswa dalam situasi dan kondisi apapun. Interaksi yang tenang dan perlahan jauh lebih efektif daripada marah. Bahkan meskipun siswa secara jelas melakukan perilaku menyimpang, guru harus menjaga harga dirinya. Siswa yang sakit hati, marah, atau frustasi karena melakukan kesalahan, harus disadarkan oleh gurunya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah pelanggaran terhadap peraturan, namun hal itu wajar saja apabila dilakukan secara tidak sadar atau lupa.

Penelitian Tindakan Kelas

Posted: Juni 7, 2013 in Uncategorized

A. PENDAHULUAN

Suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila timbul perubahan tingkah laku positif pada peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Konteks ini pada dasarnya bergantung pada guru sebagai elemen penting dalam kegiatan pembelajaran.

Memang saat ini sudah menjadi tidak lazim apabila seseorang guru menjadi dominator kegiatan pembelajaran di kelas, namun hal ini bukan berarti guru lepas tanggung jawab terhadap keberhasilan siswanya dalam belajar. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut guru harus selalu proaktif dan responsive terhadap semua fenomena-fenomena yang dijumpai di kelas.

Sejalan dengan pernyataan di atas, saat ini upaya perbaikan pendidikan dilakukan dengan pendekatan konstruktivis. Oleh karena itu guru tidak hanya sebagai penerima pembaharuan pendidikan, namun ikut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan Pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya melalui penelitian tindakan dalam pengelolaan pembelajaran di kelasnya.

Paling tidak ada tiga alasan mengapa penelitian tindakan kelas atau classroom actuion research merupakan langkah yang tepat dalam upaya memperbaiki atau meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga alasan tersebut adalah:

Guru berada di garis depan dan terlibat langsung dalam proses tindakan perbaikan mutu pendidikan tersebut,
Penelitian pada umumnya dilakukan para ahli di perguruan tinggi/lembaga pendidikan, sehingga guru tidak terlibat dalam pembentukan pengetahuan yang merupakan hasil penelitian.
Penyebaran hasil penelitian ke kalangan praktisi di lapangan memerlukan waktu lama.

B. PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1. Sejarah Lahirnya PTK

Konsep penelitian guru mula-mula dikemukakan oleh Lawrence Stenhouse di United Kingdom (UK), yang mengaitkan antara Penelitian tindakan (action research) dan konsepnya tentang guru sebagai peneliti. Kemudian John Elliott mempopulerkan Penelitian Tindakan sebagai metode guru mengadakan penelitian di kelas mereka melalui Ford Teaching Project dan selanjutnya mendirikan Jaringan PTK (Classroom Action Research Network).

Selanjutnya Stephen Kemmis memikirkan bagaimana konsep Penelitian Tindakan ini diterapkan pada bidang pendidikan (Kemmis,1983). Berpusat pada Deakin University di Australia, Kemmis dan kolegannya telah menghasilkan suatu seri publikasi dan materi pelajaran tentang Penelitian Tindakan, Pengembangan kurikulum, dan evaluasi. Selanjutnya, artikel mereka mengenai Penelitian Tindakan (Kemmis,1983) bermanfaat untuk pengembangan penelitian Tindakan dalam bidang pendidikan.

2. Pengertian PTK

Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dikenal dengan nama Classroom Action Reserch merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di kelas. Ide tentang penelitian tindakan pertama kali dikembangkan oleh Kurt dan lewin pada tahun 1946.

Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK atau action research adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan (David Hopkins, 1993:44).

Sedangkan Tim Pelatih Proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan.

Sejalan dengan pengertian di atas, Prabowo (2001) mendefinisikan makna dari penelitian tindakan yaitu suatu penelitian yang dilakukan kolektif oleh suatu kelompok sosial (termasuk juga pendidikan) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kerja mereka serta mengatasi berbagai permasalahan dalam kelompok tersebut.

Definisi tersebut diperjelas oleh pendapat kemmis dalam Kardi (2000) yang menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah studi sistematik tentang upaya memperbaiki praktik penddikan oleh sekelompok peneliti melalui kerja praktik mereka sendiri dan merefleksinya untuk mengetahui pengaruh-pengaruh kegiatan tersebut. Atau bisa disederhanakan dengan kalimat yaitu upaya mengujicobakan ide dalam praktik dengan tujuan memperbaiki atau mengubah sesuatu, mencoba memperoleh pengaruh yang sebenarnyadalam situasi tersebut.

3. Tujuan PTK

Sebagaimana diisyaratkan di atas, PTK antara lain bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan praktik pembelajaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya ”melekat” penunaian misi profesional kependidikan yang diemban oleh guru. Dengan kata lain, tujuan utama PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru. Di samping itu, sebagai tujuan penyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru.

4. Manfaat PTK

Dengan tertumbuhkannya budaya meneliti yang merupakan dampak bawaan dari pelaksanaan PTK secara berkesinambungan, maka PTK bermanfaat sebagai inovasi pendidikan karena guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara semakin mandiri.

Dengan kata lain, karena para guru semakin memiliki suatu kemandirian yang ditopang oleh rasa percaya diri. Di samping itu PTK juga bermanfaat untuk pengembangan kurikulum dan untuk peningkatan profesionalisme calon guru.

5. Tahap – tahap PTK

Penelitian Tindakan Kelas memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar, 1992) yaitu planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan) dan Reflection (Refleksi). Untuk lebih memperjelas mari kita perhatikan tahapan-tahapan berikut:

a. Planning (rencana)

Rencana merupakan tahapan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan ke depan, serta fleksibel untuk menerima efek-efek yang tak terduga dan dengan rencana tersebut secara dini kita dapat mengatasi hambatan.

b. Action (Tindakan)

Tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa suatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh mereka yang terlibat langsung dalam pelaksanaan suatu model pembelajaran yang hasilnya juga akan dipergunakan untuk penyempurnaan pelaksanaan tugas.

c. Observation (Pengamatan)

Pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendokumentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan dalam kelas. Hasil pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya.

d. Reflection (Refleksi)

Refleksi di sini meliputi kegiatan : analisis, sintesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya.

Dengan demikian, penelitian tindakan tidak dapat dilaksanakan dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk untuk melakukannya sebagai planning untuk siklus selanjutnya. Untuk lebih memperjelas fase-fase dalam penelitian tindakan, siklus spiralnya dan bagaimana pelaksanaanya, Kemmis menggambarkannya dalam siklus sebagai berikut:

Sedangkan model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh John Elliot dapat digambarkan sebagai berikut

6. Prinsip-Prinsip PTK

Terdapat enam prinsip yang mendasari PTK yang dijelaskan Hopkins dalam Kardi (2000). Keenam prinsip tersebut adalah sebagai beriktut.

(1) Tugas utama guru adalah mengaiar, dan apapun metode PTK yang diterapkannya, sebaiknya tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.

(2) Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.

(3) Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kclasnya, serta memperolch data yang dapat digunakan untuk “menjawab” hipotesis yang dikemukakannya.

(4) Masalah penelitian yang diambil olch guru hendaknya masalah yang Cukup merisaukannya, dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen terhadap pengatasannya.

(5) Dalam penyelenggaraan PTK, guru haruslah bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.

(6) Meskipun kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan Classroom Exceeding Perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kclas dan/atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.
7. Prosedur Pelaksanaan PTK

Penelitian Tindakan Kelas merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Raka Joni dan kawan-kawan (1998), terdapat 5 (lima) tahapan dalam pelaksanaan PTK. Kelima tahapan dalam pelaksanaan PTK tersebut adalah :

a. Pengembangan fokus masalah pcnelltian

b. Perencanaan Tindakan Perbaikan

c. Pelaksanaan tindakan perbaikan. Observasi dan Interpretasi

d. Analisis dan refleksi

e. Perencanaan tindak lanjut

Selanjutnya alur pelaksanaan PTK dapat digambarkan seperti gambar 3 berikut :

8. Penetapan Fokus Masalah Penelitian

(1) Merasakan Adanya Masalah

Pertanyaan yang mungkin timbul bagi pemula PTK adalah: Bagaimana memulai Penelitian Tindakan Kelas? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama yang harus dimiliki guru adalah perasaan ketidakpuasan terhadap praktik pembelajaran yang selama ini dilakukannya. Manakala guru merasa puas terhadap apa yang ia lakukan terhadap proses pembelajaran di kelasnya, meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang dialami dalam pengelolaan proses pembelajaran, sulit kiranya bagi guru untuk memunculkan pertanyaan seperti di atas, yang kemudian dapat memicu untuk dimulainya sebuah PTK (Suyanto,1997).

Oleh sebab itu, agar guru dapat menerapkan PTK dalam upayanya untuk memperbaiki atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, ia dituntut keberaniannya untuk mengatakan secara jujur khususnya kepada dirinya sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang dikelolanya.

Oleh karena itu, untuk memanfaatkan secara maksimal potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran, guru perlu memulainya sedini mungkin begitu ia merasakan adanya persoalan-persoalan dalam proses pembelajaran.

Dengan kata lain, permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar-benar merupakan masalah-masalah yang dihayati oleh guru dalam praktik pembelajaran yang dikelolanya, bukan permasalahan yang disarankan, apalagi ditentukan oleh pihak luar. Permasalahan tersebut dapat berangkat (bersumber) dari siswa, guru, bahan ajar, kurikulum, intcraksi pembelajaran dan hasil belajar siswa.

(2) Identifikasi Masalah PTK

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, penerapan arah PTK berangkat dari diagnosis terhadap keadaan yang bersifat umum. Guru dapat menemukan permasalahan tersebut dengan bertolak dari gagasan-gagasan yang masih bersifat umum mengenai keadaan yang perlu diperbaiki.

Menurut Hopkins (1993), untuk mendorong pikiran dalam mengembangkan fokus PTK, kita dapat bertanya pada diri sendiri, misalnya:

Apa yang sedang terjadi sekarang?
Apa yang terjadi itu mengandung permasalahan?
Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya?

Bila pertanyaan tersebut telah ada di dalam pikiran guru, maka langkah berikutnya adalah mengembangkan beberapa pertanyaan scbagai bcrikut.

Saya berkeinginan memperbaiki …. . ….
Berapa orangkah yang merasa kurang puas tentang …………..
Saya dibingungkan oleh …………
dan seterusnya

Pada tahap ini, yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengcnai permasalahan aktual yang dialami guru di kelas. Dengan berangkat dari gagasan-gagasan awal tersebut, guru dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan dengan menggunakan PTK.

(3) Analisis Masalah

Setelah memperoleh permasalahan-permasalahan melalui proses identifikasi tersebut, maka peneliti-guru kelas melakukan analisis terhadap masalah-masalah tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Dalam hubungan ini, akan ditemukan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti misalnya penguasaan operasi matematik, atau yang dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar.

Menurut Abimanyu (1999) dalam buku Penelitian Tindakan kelas, bahwa arahan yang perlu diperhatikan dalam penelitian untuk PTK adalah sebagai berikut :

Pilih permasalahan yang dirasa penting olch guru sendiri dan siswanya, atau topik yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.
Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya.
Pilih dan tetapkan permasalahan yang skalanya cukup kecil dan terbatas.
Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan fokus penelitian.
Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prioritas-prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

(4) Perumusan Masalah

Setelah menetapkan fokus permasalahan serta menganalisinya, maka guru selanjutnya perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan membuka peluang bagi guru untuk menetapkan tindakan perbaikan (alternatif solusi) yang perlu dilakukannya, jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara menginterpretasikannya.
9. Perencanaan Tindakan

(1) Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan

Alternatif tindakan perbaikan, juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengidentifikasi dugaan mengenai perubahan perbaikan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Jadi hipotesis tindakan adalah tindakan yang diduga akan dapat memecahkan masalah yang ingin diatasi dengan peyelenggaraan PTK.

Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan rumusan hipotesis penelitian formal. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih, atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih, maka hipotesis tindakan menyatakan “kita percaya tindakan kita akan mcrupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti”.

Agar dapat menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, guru sebagai peneliti perlu melakukan:

Kajian teoritik di bidang pembelajaran pendidikan.
Kajian hasil-hasil penclitian yang relevan dengan permasalahan.
Diskusi dengan rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti, dan sebagainya.

Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan, khusunya yang dituangkan dalam bentuk program.

Merefeksikan pengalamannya sendiri sebagai guru.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan. Menurut Soedarsono (1997) dalam buku Penelitian Tindakan Kelas beberapa hal tersebut adalah:

Rumuskan alternatif tindakan perbaikan berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain, alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.
Setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan, pcrlu dikaji ulang dan dievaluasi dari segi relevansinya dengan tujuan, kelaikan tektis serta keterlaksanaannya. Di samping itu, juga perlu ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat,selama program perbaikan itu diimplementasikan.
Pilih alternatif tindakan serta prosedurimplementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal, namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang aktual.
Pikirkan dengan seksama perubahan-perubahan yang secara implisit dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun teknik mengajar guru.

(2) Analisis kelaikan hipotesis tindakan

Setelah diperoleh gambaran awal hipotesis tindakan, maka selanjutnya perlu dilakukan pengkajian terhadap kelaikan dari masing-masing hipotesis tindakan itu dari segi “jarak” antara situasi riil dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan.

Oleh karena itu, kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan suatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK, harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga masih dalam batas-batas kemampuan guru, fasilitas tersedia di sekolah, dan terjangkau oleh kemampuan berpikir siswa.

Dengan kata lain, sebagai aktor PTK, guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah di mana ia berada dan melaksanakan tugasnya.

Menurut Soedarsono (1997) dalam buku Penelitian Tindakan Kelas, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :

Implementasi suatu PTK akan berhasil, hanya apabila didukung olch kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Di pihak lain, untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Selain itu, keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain, PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau bukan karena didorong oleh imbalan finansial.
Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya, maupun etik. Dengan kata lain, PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.
Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas-atau di sekolah juga perlu diperhitungkan. Sebab, pclaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurarangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh karena itu,demi keberhasilan PTK, maka guru dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan.
Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau di sekolah. Namun, pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai keccnderungan untuk mempertahankan statuskuo. Dengan kata lain, perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah justru dapat dijadikan scbagai salah satu sasaran PTK.
Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan di atas, iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain, dukungan dari kepala sekolah serta rekan-rekan sejawat guru, dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK.

(3) Perencanaan Tindakan

Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti perlu melakukan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah persiapan yang perlu ditempuh adalah :

Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru, di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka iplementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan.
Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga.
Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan.
Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan, sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaan yang sebenarnya. Sebagai aktor PTK, guru harus terbebas dari rasa gagal dan takut berbuat kesalahan.

10. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Interpretasi

Atas dasar uraian di atas, adalah sangat beralasan untuk beranggapan bahwa PTK dilakukan oleh scorang guru atas prakarsanya sendiri, meskipun juga terbuka untuk dilakukan secara kolaboratif. Ini berarti balwa observasi yang dilakukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat digantikan oleh pengamat luar atau oleh sarana perekam, betapapun canggihnya.

Dengan kata lain, penyaturagaan implementasi tindakan dan observasi-interpretasi proses dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi, tidak lebih dan tidak kurang, karena keduanya merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran.

Akhirnya Hopkins (1993) dalam bukunya yang berjudul “A Teacher Guide to Clasroom Research”. Secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi itu ditampilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK, melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas schingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini, kepala sekolah dan/atau pengawas scbagai pelaksana fungsional).

(1) Pelaksanaan tindakan

Jika semua tindakan telah usai, maka skenario tindakan perbaikan yang tclah direncanakan itu telah dilaksanakan dalam situasi yang aktual. Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK, dan pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan tindakan ini juga dibarengi dengan kegiatan observasi dan interpretasi, serta diikuti dengan kegiatan refleksi.

Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasi-interpretasi perlu dicermati benar, sebab ha1 tersebut adalah ciri khlas dari PTK. Observasi dan interpretasi memang lazim dalam konteks supervisi pengajaran, namun PTK bukanlah supervisi pengajaran, meskipun mungkin saja dalam PTK ada dimensi supervisi pengajaran.

(2) Obsevasi dan Interpretasi

Secara umum, observasi adalah upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung, dengan menggunakan atau tanpa bantu. Perlu dicatat adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman observasi.

Mekanisme perekaman hasil observasi perlu dirancang agar tidak mencampuradukkan antara fakta dan interpretasi, namun juga tidak terscret oleh kaidah umum yang tanpa kecuali menafsirkan Interpretasi dalam pelaksanaan observasi.

(3) Diskusi balikan (review discussion)

Observasi kelas akan memberikan manfaat apabila pelaksanaannya diikuti dengan diskusi balikan. Balikan yang terburuk adalah yang terlalu dipusatkan kepada kekurangan dan/atau kesalahan guru sebagai aktor tindakan perbaikan, yang diberikan secara satu arah yaitu dari pengamat kepada guru, yang bertolak dan kesan-kesan yang kurang didukung data, dan atau dilaksanakan terlalu lama setelah observasi dilakukan.

Sebaliknya, diskusi balikan menjanjikan manfaat yang optimal apabila:

Diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi.
Digelar dalam suasana yang mutually supportive dan non-threatening.
Bertolak dari rekaman data yang dibuat olch pengamat.
Diinterpretasikan secara bersama-sama olch aktor tindakan perbaikan dan
Pengamat dengan kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah digelar.
Pembahasan mengacu kepada pencrapan sasaran serta pengembangan stategi perbaikan untuk menentukan perencanaan berikutnya.

11. Analisis dan refleksi

Agar secara efektif dapat melakukan pengambilan keputusan sebelum, sementara, dan setelah sesuatu program pembelajaran dilaksanakan, guru dan juga ketika berperan sebagai pelaksana PTK, melakukan refleksi dalam arti merenungkan secara intens apa yang telah terjadi dan/atau tidak terjadi, serta menjajaki alternatif-alternatif solusi yang perlu dikaji, dipilih dan dilaksanakan untuk dapat mewujudkan apa yang dikehendaki.

Secara teknis, rekleksi dilakukan dengan melakukan analisis dan sintesis, disamping induksi. Suatu proses analitik terjadi apabila objek kajian diuraikan menjadi bagian-bagian, serta dicermati unsure-unsurnya. Sedangkan suatu proses sintetik terjadi apabila berbagai unsure obyek kajian yang telah diurai tersebut dapat ditemukan kesamaan esensinya secara konseptual sehingga dapat ditampilkan sebagai suatu kesatuan.

Dalam PTK, pengembangan kemampuan berpikir reflektif atau kemampuan mencermati kembali secara lebih rinci segala sesuatu yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya-baik yang positif, maupun yang negatif-juga disebut reconnaissance. Kegiatan reconnaissance dalam PTK, diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan, sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasi serta menetapkan sasaran-sasaran perbaikan baru, atau sekedar untuk menjelaskan kegagalan implementasi sesuatu tindakan perbaikan.

Dengan kata lain, refleksi dalam arti metodologik sebagaimana diuraikan di atas, merupakan upaya membuat deduksi dan induksi silih berganti secara tepat meskipun tanpa dukungan data yang memenuhi semua persyaratan secara tuntas. Namun sebaliknya, kecepatan dalam menemukan gagasan-gagasan kunci yang dilandasi oleh refleksi – secara akumulatif – menampilkan mutu kinerja yang tinggi. Dengan kata lain, tindakan yang reflektif terbukti membuahkan berbagai perbaikan praktis yang nyata.

(1) Analisis Data

Analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan, mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam suatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Dalam hubungan ini, analisis data adalah proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, refresentasi grafis, dan sebagainya. Sedangkan menyimpulkan adalah proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan/atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas.

(2) Refleksi

Refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi itu digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut, upaya mencapai tujuan PTK.

Dengan kata lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara, dan untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya.

Apabila dicermati, dalam proses refleksi tersebut tersebut dapat ditemukan komponen-konponen sebagai berikut.

ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYUSUNAN

KESIMPULAN IDENTIFIKASI TINDAK LANJUT

Yang kesemuanya itu dilakukan dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Meskipun diantara kelima komponen tersebut nampak terdapat urutan yang logis, namun dalam kenyataannya kelima komponen “terkunjungi” secara bersamaan dan bolak-balik secara proses refleksi berlangsung.

Dengan kata lain, dengan bertolak dari gambaran menyeluruh mengenai apa yang yang terjadi pada siklus PTK yang baru terselesaikan, maka pelaksanaan PTK ada pada posisi untuk menetapkan tindak lanjut. Apabila masih dipandang perlu, kembali dengan selalu merujuk kepada kerangka pikir tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

12. Rencana Tindak Lanjut.

Sebagaimana telah diisyaratkan hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakan tindakan yang telah dilaksanakan telah dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggara PTK atau belum. Jika hasilnya belum memuaskan, maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau, apabila perlu, dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru uantuk mengatasi masalah yang ada.

Dengan kata lain, jika masalah yang diteliti belum tuntas, atau belum memuaskan pengatasannya, maka PTK harus dilanjutkan pada siklus ke-2 dengan prosedur yang sama seperti pada siklus ke-1, yaitu (perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan analisis-refleksi).

Apabila pada siklus ke-2 ini permasalahan sudah terselesaikan (memuaskan), maka tidak perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3. Namun, jika pada siklus ke-2 masalahnya belum terselesaikan, maka perlu dilanjutkan dengan siklus ke-3, dan seterusnya.

Jadi, suatu siklus dalam PTK sebenarnya tidak dapat ditentukan lebih dahulu jumlahnya. Sebab-sesuai dengan hakikat permasalahan yang kebetulan menjadi pemicunya-ada suatu penelitian yang cukup hanya dilakukan dalam satu siklus, karena masalahnya dapat diselesaikan, namun ada juga yang memerlukan beberapa siklus.

Dengan demikian, dapat dikatakan banyak sedikitnya jumlah siklus dalam PTK itu tergantung pada terselesaikannya masalah yang diteliti dan munculnya factor-faktor lain yang berkaitan dengan masalah itu.

Untuk memperoleh hasil PTK yang memuaskan ada beberapa saran yang bisa dipertimbangkan yaitu :

Jangan memilih masalah yang anda tidak dapat berbuat apapun terhadap masalah tesebut.
Tentukan topik yang ruang lingkupnya terbatas dan tidak terlampau luas.
Pilhlah topik-topik yang penting bagi anda dan bagi siswa anda. Pada kegiatan ini sangat perlu dilandasi dengan motivasi intrinsic sehingga akan selalu memotivasi kita untuk melanjutkan walaupun seandainya dijumpai kesulitan dalam penelitian tersebut.
Jika diperlukan, lakukanlah kolaborasi dengan teman sejawat karena hal ini sangat bermanfaat untuk perkembangan profesional seseorang.
Kaitkan penelitian kelas anda dengan prioritas rencana pengembangan sekolah atau fungsi sekolah anda hal ini secara tidak langsung akan bermanfaat bagi perkembangan sekolah itu sendiri.

C. PENUTUP

Yang perlu dicatat bahwa penelitian tindakan guru tidak diperlakukan sebagai obyek penelitian, melainkan ikut serta dalam kegiatan penelitian untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran di kelas yang mereka bina. Dengan kata lain guru diajak bekerja sama sebagai agen-agen pembaharu untuk menyempurnakan proses belajar mengajar di kelas.

Penelitian tindakan merupakan suatu jawaban dari problematika yang muncul selama ini yaitu mengapa prestasi belajar putra-putri kita masih rendah walaupun sudah diberikan tambahan belajar. Dengan melakukan penelitian tindakan kita akan segera mendapatkan jawaban tentang apa yang diperlukan oleh anak didik kita.

DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu,S. (1999). Penelitian Praktis Untuk Perbaikan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru SD

David Hopkins. (1993) A Teacher’s Guide to Classroom Research. Philadelphia. Open University Press.

Elliot, J. (1982) Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical Constructs: an Account of the Work of the Ford Teaching Project. Dalam The Action Research Reader. Geelong, Victoria: Deakin University.

Kardi, Soeparman da Mohamad Nur. (2000) Pengajaran Langsung. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya, University Press

Kemmis, s. & McTaggart, R. (1983) The Action Research Planner. 3rd ed. Victoria, Australia: Deakin University.

Prabowo, (2000). Profil Pendidikan Profesional. Yogyakarta : Andi Offiset

Raka Joni. (1998). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PCP PGSM Dikjen Dikti.

Soedarsono, (1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen dikti BP3 GSD Yogyakarta

Suyanto. (1997). Pedoman Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta : Depdikbud

Tim Pelatihan Proyek PGSM, (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Olahraga Saat Berpuasa

Posted: Agustus 13, 2012 in Uncategorized

Cara Melakukan Olahraga Saat Puasa

Olahraga merupakan kebutuhan hidup, karena dengan olahraga badan kita akan selalu terjaga kesehatannya sehingga kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Namun pada bulan Puasa (Ramadhan) kita tidak melakukan aktifitas makan dan minum disiang hari karena saat puasa kita dilarang makan dan minum dari saat Imsyak sampai maghrib, Apakah kita perlu olahraga pada saat puasa? Ya tentu dong, walaupun kita berpuasa tetapi kita dianjurkan melalukan olahraga rutin agar kebugaran dan kesehatan badan kita selalu terjaga dengan baik.
Olahraga yang dapat dilakukan saat puasa adalah olahraga yang intensitasnya ringan sampai sedang tergantung dari kondisi seseorang, jika kita atlit maka olahraga yang dilakukan saat puasa adalah untuk menjaga prestasi agar tidak melorot tentunya dengan latihan yang lebih ringan dari biasanya, unsur teknik dan srategi lebih dikedepankan dari pada latihan fisik. Bagi kita melakukan olahraga saat puasa dengan tujuan menjaga kebugaran tubuh, untuk itu olahraga yang dilakukan yang ringan namun tetap bisa keluar keringat dan membakar kalori tubuh. Olahraga yang dapat dilakukan saat puasa misalnya jalan cepat, jogging, bersepeda dan tread mill, namun jika kondisi tubuh kita dalam kondisi kurang fit, kita dapat melakukan yoga dan jalan santai.
Jumlah latihan olahraga saat puasa adalah 2 sampai 3 kali latihan dalam satu minggu. Waktu yang pas untuk melakukan olahraga saat puasa adalah 1 – 2  jam sebelum berbuka atau setelah Sholat Asyar, dan 2 – 3 jam setelah makan sahur. karena saat itu kondisi badan kita lebih siap untuk melakukan aktifitas olahraga ringan. Lamanya olahraga pada saat puasa juga lebih pendek dari olahraga biasa.
Hal yang perlu diperhatikan pada saat puasa adalah Menu makanan atau asupan gizi. pada saat puasa kita perlu makanan yang mengandung gisi seimbang namun sesuai dengan konsisi tubuh yang berpuasa. menurut Dionisius Henry seorang konsultan latihan fisik, bahwa melakukan olahraga pada saat puasa diperlukan makanan yang  mengandung zat yang diperlukan tubuh dan cepat diserap oleh tubuh seperti. nasi merah, roti, out meal, sayur mayur dan buah-buahan. hindari makanan yang mengandung lemak dan Asam tinggi dan pada saat berbuka makanlah makanan yang manis seperti kurma, teh manis agar tubuh kita tetap terjaga kesehatan dan kebugarannya, Jadi sekarang kita tidak usah kuatir untuk melakukan olahraga saat berpuasa semoga tulisan ini bermanfaat.
by didik cahyono.

Perbedaan  Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga

Sebelum kita jauh membahas tentang pendidikan Jasmani atau Pendidikan  Olahraga alangkah baiknya kita bahas dulu tentang pengertian pendidikan dan  tujuan pendidikan. Kata yang paling pertama kali kita pertanyakan adalah arti  dari pendidikan sendiri karena Pendidikan Jasmani maupun Olahraga  tersebut  memilki kata yang sama yaitu pendidikan.

1. PENDIDIKAN

berikut Pengertian Pendidikan menurut Para Ahli :

  1. Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi   pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup   yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan   masyarakatnya.
  2. UU No. 2 tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta   didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di   masa yang akan datang.
  3. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional Pendidikan adalah   usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran   agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki   kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,   akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa,   dan negara.

Dari beberapa pendapat para ahli dan UU diatas saya dapat menyimpulkan  bahwa

Pendidikan adalah proses pembelajaran yang didapat oleh setiap  manusia untuk dapat membuat manusia itu mengerti, paham, dan lebih dewasa serta  mampu membuat manusia  lebih kritis dalam berpikir dengan apa yang didapat  melalui pembelajaran

TUJUAN PENDIDIKAN

1. Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan  pewarisan budaya dari suatu generasi ke generasi lainnya. Nilai-nilai kebudayaan  tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada 3  bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya  nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain-lain, yang kurang cocok  diperbaiki misalnya tata cara perkawinan, dan tidak cocok diganti misalnya  pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui  pendidikan formal.

Disini tampak bahwa,proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan  budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas kenyiapkan peserta  didik untuk hari esok.

2. sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai sutu  kegiatan yang sistematis dan sitemik dan terarah kepada terbentuknya kepribadian  peserta didik.Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan  pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang belum dewasa, dan bagi  mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terkhir disebut pendidikan  diri sendiri.

3. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan warga Negara

Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan  yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang  baik.

4. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja

Pendidkan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan  membimbing peserta didik sehingga memilki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan  dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon  luaran.

2. PENDIDIKAN JASMANI

Definisi tentang Pendidikan Jasmani menurut para ahli yaitu sebagai berikut  :

Barrow (1971, 1983) menyatakan Pendidikan  Jasmani dalam konteks ‘pengalaman pendidikan menyeluruh’ dan berkait dengan hal  seumur hidup setiap individu.

Baley & Field (1976), satu proses  pengubahsuaian dan pembelajaran berkenaan organik, neuromaskular, intelektual,  sosial, budaya, emosional dan estetik, hasil melalui aktiviti-aktiviti fizikal  yang terpilih dan agak rancak,

Freeman (1977, 1992) menegaskan bahasa Pendidikan  Jasmani meliputi pembangunan fizikal dan mental dan menumpu pada tiga domain  pendidikan, ia itu psikomotor, kognitif dan afektif.

Lumpkin (1990) berpendapat Pendidikan Jasmani  merupakan suatu proses yang membolehkan individu mempelajari kemahiran-kemahiran  fizikal, mental dan sosial serta tahap kecergasan yang tinggi.

Dauer (1995) berpendapat Pendidikan Jasmani ialah  sebahagian daripada program pendidikan yang menyeluruh, yang memberi sumbangan  pada asasnya melalui pengalaman-pengalaman pergerakan kepada perkembangan dan  pembangunan keseluruhan kanak-kanak.

Setelah kita membaca definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa :

Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun  anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai  kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani,  pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukan watak

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan  aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu,  baik dalam hal fisik, mental, serta emosional.

a. Tujuan Pendidikan Jasmani

Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan  pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas  jasmani dan olahraga yang terpilih

Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik

Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar

Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi  nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan  kesehatan

Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama,  percaya diri dan demokratis. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga  keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Memahami konsep aktivitas  jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai  pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta  memiliki sikap yang positif.

b.  Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani

Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi  gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti,  rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis  lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya

Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran  jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya

Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat,  ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya

Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic  serta aktivitas lainnya

Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan  bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya

Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan,  berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung

Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,  khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat  lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan  merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam  kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara  implisit masuk ke dalam semua aspek.

3. PENDIDIKAN OLAHRAGA

Pendidikan Olahraga dapat didefinisikan sebagai berikut :

Menurut saya Pendidikan Olahraga adalah proses  pembelajaran yang dilakukan dengan cara aktivitas gerak manusia menurut teknik  tertentu dalam pelaksanaannya ada unsur bermain : Ada rasa senang, Dilakukan  waktu luang, Aktivitas dipilih (sukarela), Kepuasan dalam proses, Jika tidak  dilaksanakan ada sanksi dan Nilai positif.

Tujuan dari Pendidikan Olahraga bisa kita ketahui dari tujuan olahraga itu  sendiri yaitu :

*Peningkatan

Meskipun orang itu bebas penyakit belum tentu orang iti sehat,dengan mengukur  beban latihan yang di berikan pada seseorang,maka kebugaran dapat di klasifikasi  menjadi sangat kurang,latihan fisik yang teratur dan terukur di sertai gizi yang  cukup akan meningkatkan kebugaran seseorang.kebugaran ini di tandai olah daya  tahan jantung,otot,kelenturan tubuh,komposisi tubuh, kecepatan gerak,  kelincahan, denyut nadi. latihan slalu di monetor [periksa] agar tidak melebihi  denyut yang di perbolehkan antara 72-87% dari denyut yang maksimal.

*Pencegahan

Olahraga dapat mencegah dampak negatif dari hopokenisia[kurang gerak],  memperlambat proses penuaan, memperlancar proses kelahiran pada wanita  kehamilan.

*Pengobatan

Membantu proses penyambuhan pada penyakit jantung,kencing manis, rematik,  asma, kropos tulang, dll. peredaran darah orang yang berolahraga lebih lancar,  sehingga racun yang menumpuk di tubuh cepat di keluarkan.

*Pemulihan

Penyandang cacat,kerusakan otak,tuna rungu,epilepsi dll membutuhkan olahraga  yang sesuai dengan keadaan yang di penderita,apabila penyandang cacat ini tidak  melakukan olahraga maka cacatnya akan bertambah karena terjadi kekurangan  gerak,otak menjadi lemah sehingga mudah timbul  penyakit-penyakit,jantung,ginjal,saluran darah,dll selain itu olahraga bagi  penyandang cacat juga sangat di perlukan untuk menghilangkan anggapan masyarakat  bahwa mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

4. PERBEDAAN PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN PENDIDIKAN JASMANI

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan  ini adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru  dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut.

Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa  dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan  pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam  kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan  kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran “pendidikan jasmani  dan kesehatan” (penjaskes) dalam kurikulum1994.

Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang  menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar  guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan  pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di  atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa  bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ?

Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan  olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang  olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Paling tidak  fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan  motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa  juga keterampilan emosional dan sosial.

Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga  tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih  metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi  murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama

Menurut UU No 3 tahun 2005 tentang SKN dijelaskan bahwa

ruang lingkup olahraga dibagi dalam tiga bagian yaitu:

  1. Olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang   dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan   untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan   kebugaran jasmani.
  2. Olahraga rekreasi adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat dengan   kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan   nilai budaya masyarakat setempat untuk kesehatan, kebugaran, dan   kegembiraan.
  3. Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan   olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi   untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi   keolahragaan. selain itu dalam pengembangan olahraga perlu dilakukan sebuah   pendekatan keilmuan yang menyeluruh dengan jalan pemanfaatan ilmu pengetahuan   dan teknologi.

by. Didik Cahyono, S.Pd.

pendidikan karakter  adalah pendidikan  untuk 275 juta penduduk Indonesia”

Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:

  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM

Sumber : Litbang Kompas

Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.

Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.

Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.

Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient.

Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?

Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.

Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak “kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan  di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup  terpenjara oleh keyakinannya yang salah.

Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggup?

Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)

Salam

didik cahyono,

Kutipan  —  Posted: Agustus 12, 2012 in Uncategorized

Ilmu Kesehatan Olahraga

Posted: Agustus 12, 2012 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Olahraga menyehatkan! Inilah ungkapan masyarakat. Masyarakat meyakini benar manfaat olahraga bagi kesehatan. Tetapi bagaimana olahraga dapat menyehatkan dan berapa berat orang harus melakukan olahraga untuk menjadi lebih sehat? Inilah masalah yang perlu diperjelas bagaimana tata-hubungan antara olahraga dengan kesehatan, bagaimana cara melakukan olahraga untuk kesehatan dan berapa berat olahraga harus dilakukan agar orang menjadi lebih sehat. Perlu diketahui bahwa pada awal abad 21 usia harapan hidup diperkirakan mencapai 70 tahun. Hal ini akan meningkatkan jumlah orang usia lanjut, yang diperkirakan pada tahun 2005 ini mencapai jumlah 19 juta orang atau 8,5% dari penduduk (Dep.Sosial RI.,1996: 1 dan 6). Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kondisi ini perlu diantisipasi agar para usia lanjut ini tetap sehat, sejahtera dan mandiri, sehingga tidak menjadi beban berat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Mengapa perlu Olahraga?

Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak dan apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu : Bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.

Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (yang berarti mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (yang berarti meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, gerak (Olahraga) merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya terus-menerus; artinya Olahraga sebagai alat untuk mempertahankan hidup, memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Seperti halnya makan, olahragapun hanya akan dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kesehatan pada mereka yang melakukan kegiatan olahraga. Bila orang hanya menonton olahraga, maka sama halnya dengan orang yang hanya menonton orang makan, artinya ia tidak akan dapat merasakan nikmatnya berolahraga dan tidak akan dapat memperoleh manfaat dari olahraga bagi kesehatannya.

Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkem-bangan fungsional jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul khususnya pada generasi muda yang aktif mengikuti kegiatan Olahraga dari pada yang tidak aktif mengikutinya (Renstrom & Roux 1988, dalam A.S.Watson: Children in Sport dalam Bloomfield,J., Fricker, P.A. and Fitch,K.D., 1992). Penulis meyakini benar bahwa hal demikian juga berlaku bagi para lansia yang aktif dalam olahraga.

Olahraga Kesehatan

Olahraga Kesehatan adalah Olahraga untuk memelihara dan/ atau untuk meningkatkan derajat Kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (Sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam peri kehidupannya sehari-hari (Sehat dinamis) yang bersifat rutin, maupun untuk keperluan rekreasi dan/ atau mengatasi keadaan gawat-darurat. Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga : mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat ! Malas berolahraga : mengundang penyakit. Tidak berolahraga : menelantarkan diri!

Kesibukan, keasyikan dan kehausan dalam kehidupan “Duniawi”, sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi (penyakit bukan oleh karena infeksi), di antaranya yang terpenting adalah penyakit jantung-pembuluh darah (penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia madya, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan Olahraga dan/ atau tidak menjalankan pola hidup sehat. Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri ! Bila olahraga sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa rugi manakala tidak dapat melakukan Olahraga, misalnya karena hujan.

B. Konsep Kesehatan Olahraga

adalah: Padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massaal, mudah, murah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman)! Massaal : Ajang silaturahim, ajang pencerahan stress, ajang komunikasi sosial! Jadi Olahraga Kesehatan membuat manusia menjadi sehat Jasmani, Rohani dan Sosial yaitu Sehat seutuhnya sesuai konsep Sehat WHO! Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitas. Dalam hal olahraganya berbentuk berjalan, maka intensitas berjalannya hendaknya seperti orang yang berjalan tergesa-gesa, tetapi tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menurut Cooper (1994), intensitas Olahraga Kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM sesuai umur (Denyut Nadi Maximal sesuai umur = 220-umur dalam tahun). Sehat Dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri sendiri khususnya melalui kegiatan Olahraga (Kesehatan). Hukumnya adalah : Siapa yang makan, dialah yang kenyang! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat! Tidak diolah berarti siap dibungkus! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan.

Sehat adalah nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan kemampuan! Karena itu syukurilah nikmat sehat karunia Allah ini dengan memelihara serta meningkatkan derajat sehat dinamis Anda melalui gerak, khususnya melalui Olahraga Kesehatan!

Olahraga kesehatan dapat dilaksanakan secara massaal misalnya : jalan cepat atau lari lambat (jogging), senam aerobik, senam pernafasan dan olahraga-olahraga massaal lain yang sejenis. Senam aerobik sangat baik oleh karena dapat menjangkau seluruh sendi dan otot-otot tubuh, di samping juga merangsang otak untuk berpikir, karena Peserta harus memperhatikan dan segera menirukan gerak instruktur yang selalu berubah tanpa pola, sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat dihafalkan! Bila Peserta sudah hafal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Olahraga Kesehatan memang dapat dilakukan sendiri-sendiri, akan tetapi akan lebih menarik, semarak serta menggembirakan (aspek Rohaniah) apabila dilakukan secara berkelompok. Berkelompok merupakan rangsangan dan sarana untuk meningkatkan kesejahteraan Sosial, oleh karena masing-masing individu akan bertemu dengan sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada Olahraga (Kesehatan) akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status intelektual dan sosial-ekonomi para Pelakunya. Dampak psikologis yang sangat positif dengan diterapkannya Olahraga Kesehatan adalah rasa kesetaraan dan kebersamaan di antara sesama Pelaku, oleh karena mereka semua merasa dapat dan mampu melakukan Olahraga Kesehatan dengan baik secara bersama-sama.

BAB II

OLAHRAGA

Jenis Olahraga

a. Manfaat Olahraga

Meningkatkan kerja dan fungsi jantung, paru dan pembuluh darah yang ditandai dengan :

  • Aerobik      adalah : Olahraga yang dilakukan secara terus-menerus dimana kebutuhan      oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya : Jogging, senam, renang,      bersepeda.
  • Anaerabik      adalah : Olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi seluruhnya      oleh tubuh. Misalnya : Angkat besi, lari sprint 100 M, tenis lapangan,      bulu tangkis.
  • Denyut nadi istirahat menurun.
  • Isi sekuncup bertambah.
  • Kapasitas bertambah.
  • Penumpukan asam laktat berkurang.
  • Meningkatkan pembuluh darah kolateral.
  • Meningkatkan HDL Kolesterol.
  • Mengurangi aterosklerosis.

Meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang yang ditandai pada :

  • Pada anak : mengoptimalkan pertumbuhan.
  • Pada orang dewasa : memperkuat masa tulang,menurunkan nyeri sendi kronis pada pinggang, punggung dan lutut.

Meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) pada tubuh sehingga dapat mengurangi cedera.

Meningkatkan metabolisme tubuh untuk mencegah kegemukan dan mempertahankan berat badan ideal.

Mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit seperti :

  • Tekanan darah tinggi : mengurangi tekanan sistolik dan diastolik.
  • Penyakit jantung koroner : menambah HDL-kolesterol dan mengurangi lemak tubuh.
  • Kencing manis : menambah sensitifitas insulin.
  • Infeksi : meningkatkan sistem imunitas.

Meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap jaringan tubuh.

Meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit melalui peningkatan pengaturan kekebalan tubuh.

Penelitian Kavanagh, latihan aerobik 3 kali seminggu selama 12 minggu.

  • Meningkatkan pembuluh darah kolateral.
  • Meningkatkan HDL kolesterol.
  • Mengurangi aterosklerosis.
  1. C. Persiapan Sebelum Olahraga
    1. Pilih olahraga yang digemari, aman, mudah, dan murah.
    2. Sebaiknya sebelum melakukan olahraga dilakukan pemeriksaan pendahuluan untuk menentukan dosis yang aman dan jenis olahraga yang cocok (tes pembebanan/stress test) terutama bila :
  • Ada keluhan seperti sering pusing, sesak nafas, nyeri dada.
  • Berpenyakit seperti penyakit jantung koroner, asma, kencingmanis, hipertensi, dll.
  • Berusia diatas 30 tahun.
  1. Sebaiknya gunakan pakaian dan sepatu olahraga yang sesuai dan nyaman.
  2. Jangan lakukan olahraga setelah makan kenyang, sebaiknya tunggu sampai 2 jam.
  3. Minum minuman yang sejuk dan sedikit manis (manis jambu).
  1. D. Olahraga Yang Baik Dan Benar
    1. Olahraga dapat dimulai sejak usia muda hingga usia lanjut.
    2. Dapat dilakukan dimana saja, dengan memperhatikan lingkungan yang mana dan nyaman, bebas polusi, tidak menimbulkan cedera. Misalnya : dirumah, tempat kerja, dan dilapangan.
    3. Olahraga hendaknya dilakukan secara bervariasi, berganti-ganit jenisnya supaya tidak monoton.
    4. Dilakukan secara bertahap dimulai dari pemanasan 5 – 10 menit, diikuti dengan latihan inti minimal 20 menit dan diakhiri dengan pendinginan selama 5 – 10 menit.
    5. Frekuensi latihan dilakukan secara teratur 3 – 5 kali per minggu.
    6. Intensitas latihan :
  • Untuk meningkatkan daya tahan tubuh harus mencapai 70% – 85% denyut nadi maksimal (DNM). DNM adalah denyut nadi maksimal yang dihitung berdasarkan : DNM = 220 – UMUR
  • Untuk membakar lemak dengan intensitas yang lebih ringan yaitu 60 – 70 % DNM.

Contoh : Orang dengan usia 40 tahun akan mempunyai: DNM = 220 – 40 = 180. Untuk membakar lemak orang tersebut harus berolahraga dengan denyut nadi mencapai : 60% x 180 = 108 s/d 70% x 180 = 126.

  1. Waktu. Mulai semampunya, ditambah secara perlahan-lahan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh (endurence) perlu waktu antara 1/2 – 1 jam, untuk membakar lemak perlu waktu lebih lama (lebih dari satu jam).
  2. Yang Perlu Diperhatikan Setelah Berolahraga
  3. Yang Tidak Dianjurkan Berolahraga
  1. Jangan      langsung makan kenyang setelah berolahraga, makanlah makanan lunak/cairan      seperti bubur kacang hijau.
  2. Minumlah      secukupnya bila banyak berkeringat dan jangan langsung mandi.
  3. Gantilah      pakaian olahraga yang digunakan bila terlalu basah.
  1. Bila      sedang demam.
  2. Untuk      olahraga jalan bila terdapat varises pada kaki dan pada, nyeri pada sendi      terutama pada lutut.
  3. Penyakit-penyakit      :
  • Tekanan darah tinggi tidak terkontrol.
  • Kencing manis tidak terkontrol.
  • Kelainan katup jantung.

BAB III

KEBUGARAN JASMANI

A. Komponen Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani sangat penting dalam menunjang aktifitas kehidupan sehari-hari, akan tetapi nilai kebugaran jasmani tiap-tiap orang berbeda-beda sesuai dengan tugas/profesi masing-masing. Kebugaran jasmani terdiri dari komponen-komponen yang dikelompokkan menjadi kelompok yang berhubungan dengan kesehatan (Health Related Physical Fitness) dan kelompok yang berhubungan dengan ketrampilan (Skill Related Physical Fitness). Dalam buku panduan ini hanya dijelaskan komponen kebugaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan.

1. Komposisi tubuh

  • Adalah persentase (%) lemak dari berat badan total dan Indeks Massa Tubuh (IMT).
  • Lemak cepat meningkat setelah berumur 30 tahun dan cenderung menurun setelah berumur 60 tahun.
  • Memberi bentuk tubuh.
  • Pengukuran : Skinfold callipers, IMT, IMT = (Berat Badan Dalam kg : Tinggi Badan Dalam M2)
  • Obesitas pada anak-anak disebabkan oleh : hipeplasi dan hipertropi sel adiposit serta input berlebihan.
  • Obesitas pada orang dewasa oleh : hiperplasi dan hipertropi sel adiposit serta output yang kurang.

2. Kelenturan/fleksibilitas tubuh

  • Adalah luas bidang gerak yang maksimal pada persendian, tanpa dipengaruhi oleh suatu paksaan atau tekanan.
  • Dipengaruhi oleh: Jenis sendi; Struktur tulang; Jaringan sekitar sendi, otot, tendon dan ligamen.
  • Wanita (terutama ibu hamil) lebih lentur dari laki-laki.
  • Anak-anak lebih besar dari orang dewasa.
  • Puncak kelenturan terjadi pada akhir masa pubertas.
  • Penting pada setiap gerak tubuh karena meningkatkan efisiensi kerja otot.
  • Dapat mengurangi cedera (orang yang kelenturannya tidak baik cenderung mudah mengalami cedera).
  • Pengukuran: Duduk tegak depan (Sit and reachTest) Flexometer.

3. Kekuatan Otot

  • Adalah kontraksi maksimal yang dihasilkan otot, merupakankemampuan untuk membangkitkan tegangan terhadap suatutahanan.
  • Laki-laki kira-kira 25% lebih besar dari wanita (Testoteronmerupakan anabolik steroid).
  • Diukur dengan dinamometer.

4. Daya tahan jantung paru

  • Kemampuan jantung, paru dan pembuluh darah untukberfungsi secara optimal pada waktu kerja dalam mengambilO2 secara maksimal (VO2 maks) dan menyalurkannya keseluruh tubuh terutama jaringan aktif sehingga dapatdigunakan untuk proses metabolisme tubuh.
  • Kemampuan otot-otot besar untuk melakukan pekerjaan cukup berat dalam waktu lama secara terus menerus.
  • Merupakan komponen kebugaran jasmani terpenting.
  • Pengukuran : test lari 2,4 Km (12 menit), Bangku Harvard test,Ergocycles test.

5. Daya tahan otot

  • Merupakan kemampuan untuk kontraksi sub maksimal secaraberulang-ulang atau untuk berkontraksi terus menerus dalamsuatu waktu tertentu.
  • Mengatasi kelelahan.
  • Pengukuran : Push up test, Sit up test.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani

  1. Umur.      Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada usia      25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional dari      seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajin      berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya.
  2. Jenis      Kelamin. Sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki      hampir sama dengan anak perempuan, tapi setelah pubertas anak-anak      laki-laki biasanya mempunayi nilai yang jauh lebih besar.
  3. Genetik.      Berpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas,      haemoglobin/sel darah dan serat otot.
  4. Makanan.      Daya tahan yang tinggi bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat (60-70 %).      Diet tinggi protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olah raga      yang memerlukan kekuatan otot yang besar.
  5. Rokok.      Kadar CO yang terhisap akan mengurangi nilai      VO2 maks, yang berpengaruh terhadap daya tahan, selain itu menurut      penelitian Perkins dan Sexton, nicotine yang ada, dapat memperbesar      pengeluaran energi dan mengurangi nafsu makan.

PERHATIAN!

Jika ada seseorang dengan gangguan jantung, hipertensi, nyeri dada, pusing, kehilangan kesadaran, masalah tulang dan sendi, asma, sesak napas atau hamil sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum berolah raga.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Yang sangat perlu difahami adalah bahwa olahraga berat dapat menjadi pemicu terjadinya episode klinis yang dapat berwujud sebagai serangan jantung atau stroke yang mematikan, namun hal itu hanya mungkin terjadi pada orang-orang yang telah mengalami penyempitan pembuluh darah yang telah mencapai stadium kritis. Yang juga sangat perlu pula difahami adalah bahwa apakah seseorang telah masuk pada olahraga berat atau belum, bersifat sangat individual, dan hal demikian umumnya terjadi pada cabang-cabang olahraga permainan misalnya tennis dan bulutangkis, karena pada cabang-cabang olahraga demikian sangat mungkin terjadi pembangkitan emosi (emotional arousal) yang tidak terkendali yaitu apabila seseorang ingin memenangkan permainan itu, apa lagi bila disertai taruhan walaupun hanya taruhan semangkok bakso ! Oleh karena itu Olahrga Kesehatan merupakan bentuk olahraga yang paling aman bagi pembinaan kesehatan.

Buku panduan ini sebagai acuan petugas kesehatan dalam memberikan informasi mengenai pelaksanaan kegiatan aktifitas fisik dan atau olahraga yang baik dan benar sehingga bermanfaat untuk meningkatkan derajat kesehatan dan derajat kebugaran.

Untuk melengkapi pengetahuan yang diperlukan, diharapkan petugas kesehatan dapat membaca/mempelajari buku-buku lain mengenai kesehatan olahraga.

Walaupun inaktivitas (ketiadaan gerak/olahraga) hanya merupakan faktor risiko minor bagi kejadian penyakit kardio-vaskular, tetapi meniadakan faktor ini dengan melakukan aktivitas fisik (olahraga kesehatan) menghasilikan manfaat yang sangat besar karena olahraga kesehatan:

  • Merupakan upaya pencegahan dan rehabilitasi yang sangat fisiologis, mudah, murah, meriah dan massaal;
  • Dapat memperkecil pengaruh faktor-faktor risiko lain termasuk dua faktor risiko utamanya (kecuali merokok), dibandingkan dengan bila orang itu tidak melakukan olahraga kesehatan (Or-Kes),
  • Dapat menjangkau aspek rokhani dan aspek sosial untuk menuju derajat sehat yang lebih tinggi sesuai batasan sehat WHO.

Olahraga Kesehatan sebagai sarana pencegahan dan rehabilitasi perlu difahami secara mendalam oleh karena manfaat dan keamanannya berhubungan erat dengan intensitas pelaksanaan.

Sehat dan Kesehatan.

  • Sehat merupakan nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan dasar bagi segala kemampuan, karena itu perlu selalu disyukuri.
  • Memelihara dan meningkatkan kesehatan hakekatnya adalah mensyukuri nikmat sehat karunia Allah : cara terpenting, termurah dan fungsional (fisiologis) adalah Olahraga Kesehatan.
  • Acuan Sehat adalah Sehat Paripurna dari Organisasi Kesehatan Dunia yaitu Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan.

Olahraga – Gerak :

  • Gerak adalah ciri kehidupan.
  • Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.
  • Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.
  • Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak, yang berarti meningkatkan kualitas hidup.
  • Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
  • Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat dari Olahraga.

Olahraga Kesehatan :

  • Intensitasnya sedang, setingkat di atas intensitas aktivitas fisik untuk menjalani kehidupan sehari-hari, harus dilakukan dengan santai dan tanpa beban-beban emosional.
  • Tujuan: Meningkatkan derajat kesehatan dinamis yaitu sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari (kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologik), bukan untuk tujuan prestasi.
  • Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), efisien, adekuat, mudah, murah, meriah, massaal, fisiologis (bermanfaat & aman).
  • Massaal : – Ajang silaturahim ( Sejahtera Rohani dan Sosial – Ajang pencerahan stress ( Sejahtera Rohani – Ajang komunikasi sosial ( Sejahtera Sosial Ketiga hal diatas merupakan pendukung untuk menuju Sehatnya WHO yaitu Sejahtera Paripurna.

Kondisi Pemahaman Olahraga saat ini.

  • Waktu : Olahraga masih banyak diartikan sebagai kegiatan yang memerlukan banyak waktu, sehingga orang-orang yang sangat sibuk akan menganggap kegiatan olahraga sebagai membuang-buang waktu.
  • Olahraga masih banyak diartikan sebagai olahraga kecabangan dan dikaitkan dengan sarana dan prasarana yang mahal, sehingga menyebabkan pelaksanaannya mengalami banyak hambatan.
  • Olahraga Kesehatan : masih banyak yang belum memahami arti, manfaat dan tata-laksananya, sehingga masih lebih banyak orang yang memilih olahraga permainan kecabangan yang dampak risikon.

by. Didik Cahyono, S.Pd.