Strategi Pembelajaran Penjas

Posted: Juni 7, 2013 in Uncategorized

Didik darrell1.      Model Belajar Kerjasama ( Cooperative Learning Model )

A.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Davidson dan Warsham “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik”. Slavin menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Jadi dalam model pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif.

B.     Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial. Johnson & Johnson menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Descamps juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses dan pemecahan masalah.

Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa, dan memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa lainnya.

C.     Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif

Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1)  Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.

2)  Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.

3)  Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran.

4)  Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas semua pekerjaan kelompok.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1)  Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

2)   Kelompok dibentuk secara heterogen.

3)   Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu.

Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat teman sekelompoknya.

2.      Model Pendekatan Taktis

Pendekatan taktis mendorong siswa untuk memecahkan masalah taktik dalam permainan. Masalah ini pada hakikatnya berkenaan dengan peberapan keterampilan teknik dalam situasi permainan. Dengan demikian siswa makin memahami kaitan antara teknik dan taktik. Keuntungan lainnya, pendekatan ini tepat untuk mengajarkan keterampilan bermain sesuai dengan keinginan siswa. Tujuan utama dari pendekatan taktis dalam pengajaran permainan adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bermain.

Pendekatan taktik bermain membantu memikirkan guru untuk menguji kembali pandangan filosofis mereka pada pendidikan bermain. Model mengajar ini memungkinkan siswa untuk menyadari keterkaitan antara bermain dan peningkatan penampilan bermain mereka. (Subroto 2001 : 4) menjelaskan tentang tujuan pendekatan taktis secara spesifik yaitu untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan.

Model pembelajaran permainan taktikal menggunakan minat siswa dalam suatu struktur permainan untuk mempromosikan pengembangan keterampilan dan pengetahuan taktikal yang diperlukan untuk penampilan permainan. Sedangkan pembelajaran masuk ke dalam alam pikir siswa, sehingga terbentuk struktur pengetahuan tertentu. Pembelajaran pendekatan taktikal dalam pendidikan jasmani adalah bagian dari pembelajaran kognitif.

Pada model pembelajaran permainan taktikal, guru merencanakan urutan tugas mengajar dalam konteks pengembangan keterampilan dan taktis bermain siswa, mengarah pada permainan yang sebenarnya. Tugas-tugas belajar menyerupai permainan dan modifikasi bermain sering disebut juga “bentuk-bentuk permainan”. Penekanannya pada pengembangan pengetahuan taktikal yang memfasilitasi aplikasi keterampilan dalam permainan, sehingga siswa dapat menerapkan kegiatan belajarnya saat dibutuhkan. Pada intinya adalah siswa dapat mengembangkan keterampilan dan taktis bermain secara berkesinambungan.

Dalam strategi pembelajaran pendekatan taktis yaitu lebih menekankan pada konsep game-drill-game. Game yaitu bermain, siswa dituntut untuk bermain dengan konsep-konsep yang yang diberikan oleh guru dan memahami tentang permainan itu. Drill yaitu pengulangan, guru harus lebih teliti melihat permainan siswanya dan apabila terjadi kesalahan dalam tugas gerak maka guru menghentikan pembelajaran dan memberikan contoh gerakan yang benar kemudian siswa melakuakn tugas gerak. Kemudian game yaitu bermain, setelah melakukan pengulangan atau drill siswa kembali melakukan permainan dengan perubahan tugas gerak yang telah dilakukan pada tugas drill. Pembelajaran melalui model pembelajaran pendekatan taktis membiasakan siswa untuk melatih kognitif, afektif, dan psikomotor.

Pembelajaran taktikal mengutamakan pada pemanfaatan “masalah-masalah taktikal” sebagai perantara dan tujuan pembelajaran. Guru harus mampu menunjukan masalah-masalah taktis yang diperlukan dalam situasi bermain. Sedangkan bagi siswa, sangat penting untuk mengenali posisi bermain di lapangan secara benar, pilihan-pilihan gerak yang mungkin dilakukan, dan situasi-situasi bermain yang dihadapi siswa.

Kesadaran akan taktik, menggunakan dasar kemampuan untuk menekankan masala-masalah taktik yang muncul selama permainan. Hal itu sekaligus dapat memilih respons tersebut, mungkin terletak pada keterampilan gerak dalam penguasaan bola, seperti passing, dribling dan shooting dalam permainan bola tangan. Tujuan utama dalam mengajarkan olahraga di dalam pendidikan jasmani adalah untuk kesenangan, keterlibatan aktif, dan peningkatan keterampilan siswa yang bedampak positif terhadap hidupnya. Dalam proses pembelajaran, tujuan tersebut akan tercapai dan tidaknya tergantung pada bagaimana metode/ pendekatan keterampilan mengajar yang diterapkan guru kepada siswa dalam mengajar.

Selama ini dalam proses pengajaran pendididikan jasmani di sekolah masih ada guru yang menganut sistem pendekatan yang bersifat tradisional, yang menekankan pengajaran hanya pada penguasaan keterampilan atau teknik dasar suatu cabang olahraga. Meskipun format/ konsep pengajaran seperti itu memang bisa meningkatkan penguasaan teknik siswa, tetapi kekurangannya adalah bahwa keterampilan teknik dasar diajarkan kepada siswa sebelum siswa mampu memahami keterkaitan atau relevansi teknik-teknik dasar tersebut dengan penerapannya di dalam permainan yang sebenarnya, akibatnya sifat kesinambungan dari implementasi teknik dasar ke dalam permainan menjadi terputus. Untuk menghindari hal tersebut sekarang sudah dikenal suatu sistem pendekatan yang dirasakan lebih cocok untuk diterapkan dalam mengajar penjas terutama yang terkait dengan mengajar untuk olahraga-olahraga yang bersifat permainan yaitu sistem “pendekatan taktis”.

Pengajaran melalui pendekatan taktis ini berusaha menghubungkan kemampuan taktis bermain dan keterampilan teknik dasar dengan menekankan pemilihan waktu yang tepat untuk melatih teknik dasar dan aflikasi dari pada teknik dasar tersebut ke dalam keterkaitannya dalam kemampuan taktis bermain, sehingga mampu merangsang siswa untuk befikir dan menemukan sendiri alasan-alasan yang melandasi gerak dan penampilannya (peformance). Selain itu sistem pendekatan taktis ini dapat dipakai untuk menghindari dari ketidak tercapaiannya tujuan/ target kompetensi yang diajarkan karena minimnya pasilitas yang ada pada sekolah, ataupun dikarenakan alokasi waktu yang sedikit yang diberikan untuk mata pelajaran penjas ini.

Dalam pelaksanaannya pendekatan taktis ini memanfaatkan bentuk-bentuk permaianan yang dimodifikasi. Penulis contohkan di sini misalnya pada permainan bola voli, bentuk modifikasinya seperti ukuran lapangan diperkecil, tinggi tiang net diperpendek, jumlah pemain bisa dikurangi atau ditambah. Modifikasi ini disesuaikan dengan kemampuan keterampilan siswa dan sarana yang ada.

Di bawah ini dipaparkan salah satu contoh sederhana penerapannya dalam praktik. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Bentuk beberapa kelompok siswa yang terdiri dari tiga orang. Tiga orang siswa pertama tempatkan dilapangan (setengah lapangan) dengan posisi membentuk segitiga dengan masing-masing memiliki tugas, orang kesatu bertugas sebagai penerima bola pertama yang akan diberikan kepada orang kedua yang bertindak sebagai pengumpan (tosser), dan orang ketiga sebagai spaiker.
2. Setelah menempati posisi sesuai dengan tugasnya masing-masing latihan dapat dimulai dengan memainkan bola diawali oleh guru yang memberikan bola kepada orang pertama selanjutnya dari orang pertama diberikan kepada orang kedua dengan cara di passing dan dari orang kedua selanjutnya diumpankan kepada orang ketiga untuk dismash.

3. Setelah selesai melakukan latihan yang pertama maka siswa diputar bergantian posisi, orang kesatu diganti oleh orang ketiga, orang kedua diganti oleh orang kesatu, dan orang ketiga diganti oleh orang kedua dan seterusnya sampai semua siswa dapat melakukan dan merasakan posisi-posisi tersebut. Setelah semuanya selesai ganti dengan kelompok berikutnya. Lakukan hal yang sama seperti penjelasan di atas. Lihat gambar di bawah ini:
4. Setelah semua kelompok selesai berlatih dapat dilanjutkan dengan game dalam bentuk yang dimodifikasi sesuai dengan kemampuan keterampilan siswa.

3.      Model Mengajar Inkuiry

Model pembelajaran inkuiri diciptakan oleh Suchman (1962) dengan alasan ingin memberikan perhatian dalam membantu siswa menyelidiki secara independen, namun dalam suatu cara yang teratur. Ia menginginkan agar siswa menanyakan mengapa sesuatu peristiwa itu terjadi, memperoleh dan mengolah data secara logis, dan agar siswa mengembangkan strategi intelektual mereka untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Inkuiri adalah suatu pencarian makna yang mensyaratkan seseorang untuk melakukan sejumlah operasi intektual untuk menciptakan pengalaman. Pada prinsipnya model inkuiri merupakan model yang menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa di samping juga pada guru, dan yang terutama dalam model inkuiri adalah siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam menyelesaikan suatu topik permasalahan hingga sampai pada suatu kesimpulan. Latihan inkuiri dapat diberikan pada setiap tingkatan umur (mulai dari Taman Kanak-kanak dan seterusnya), namun tentunya dengan tingkat kesulitan masalah yang berbeda.

Selain itu Metzler (2000:333) juga mengemukakan pendapatnya bahwa: “The inquiry model can be effective at all grades if the levels of cognitive and psychomotor problems given to student match their developmental readiness.” Maksudnya adalah model inkuiri bisa efektif untuk seluruh tingkatan kelas seandainya tingkat permasalahan kognitif dan psikomotor yang diberikan pada siswa sesuai dengan kesiapan perkembangannya. Masih menurut pendapat Metzler (2000:312) bahwa: “Inquiry teaching model is used in many schools in the United States and abroad, most often at the elementary grades.” Jadi model pembelajaran inkuiri ini digunakan oleh banyak sekolah di Amerika Serikat dan negara lainnya pada tingkat SD.

Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dengan waktu yang relatif singkat. Inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional. Proses inkuiri dapat dimulai pertama-tama dengan mencari informasi dan data dengan menggunakan human sense, seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan (www.thirteen.org/ edonline/concept2class/ monthh6/index_sub1.htm1). Kegiatan inkuiri tidak terjadi dengan sendirinya, namun harus diciptakan kondisi yang memungkinkannya untuk itu.

Berikut ini akan dipaparkan contoh penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pelajaran pendidikan jasmani.

Kegiatan Pembelajaran:

A. Pemanasan:

1. Berbaris, berdoa dan mengabsen.

2. Melakukan lari, peregangan dinamis dan statis.

3. Penjelasan tentang materi inti yang akan dilakukan pada kegiatan

selanjutnya.

Hal yang perlu diingat bahwa dalam pemanasan ini siswa diberi kebebasan untuk memimpin pemanasan tanpa harus diatur atau dikomando oleh guru. Fungsi guru hanya mengawasi saja.

B. Kegiatan Inti:

Siswa dibagi menjadi empat kelompok dalam barisan berbanjar dan saling berhadapan dengan jarak yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, lalu materi yang diberikan adalah:

  • Melakukan berbagai keterampilan dasar permainan kasti atau rounders dengan baik (melambungkan, melempar, menangkap).

Tahap pertama: Menyajikan pertanyaan atau masalah. Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan atau masalah, dan guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru : Coba jelaskan bagaimana cara melempar dan menangkap bola?

Siswa: memperhatikan dan mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh

guru.

Tahap kedua: Membuat hipotesis. Pada tahap ini guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: Membiarkan siswa untuk berpikir dan berhipotesis tentang bagaimana caranya agar bisa melempar dan menangkap bola.

Siswa: berpikir dan berhipotesis untuk dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Tahap ketiga: Merancang percobaan. Pada tahap ini guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. Misalnya: guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan urutan tentang cara melempar dan menangkap dengan cara mereka sendiri, siswa menjelaskan secara verbal dan siswa belum mempraktekkan dengan gerakan.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan cara melempar

dan menangkap bola dengan cara mereka sendiri.

Siswa: menjelaskan secara verbal cara melempar dan menangkap bola dengan hasil pikiran mereka sendiri, dan siswa belum mempraktekkannya dengan gerakan.

Tahap keempat: Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi. Pada tahap ini guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui praktek.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: memberi kebebasan pada siswa untuk mencoba dan mempraktekkan

cara melempar dan menangkap bola dengan hasil pikiran dan temuan mereka sendiri. Dalam hal ini guru membimbing dan mengawasi siswa.

Siswa: mencoba dan mempraktekkan cara melempar dan menangkap bola

dengan hasil pikiran dan temuan mereka sendiri.

Tahap kelima: Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah seluruh siswa mempraktekkan, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjelaskan tentang cara melempar dan menangkap berdasarkan hasil temuan masing-masing siswa, dan peran guru di sini adalah menganalisis hasil temuan siswa.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: dapatkah kalian menjelaskan dan mendemonstrasikan pada saya cara melempar dan menangkap bola?

Siswa: Berpikir dan bergerak

Tahap keenam: Membuat kesimpulan. Pada tahap ini guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. Maksudnya guru memberi kesempatan pada siswa untuk menyimpulkan tentang hasil temuan siswa.

Kegiatan yang berlangsung dalam PBM:

Guru: saya melihat kalian sudah dapat melempar dan menangkap bola, sekarang saya ingin anda simpulkan tentang cara melempar dan menangkap bola.

Siswa: menyimpulkan tentang cara melempar dan menangkap bola secara

verbal dan juga dengan gerakan.

C. Penutup:

1. Siswa berbaris dan melakukan gerakan-gerakan sederhana untuk penenangan

2. Evaluasi dan kesimpulan hasil belajar

3. Berdoa

Hal yang perlu diingat bahwa dalam penutup ini siswa diberi kebebasan untuk melakukan pendinginan tanpa harus diatur atau dikomando oleh guru. Fungsi guru hanya mengawasi saja. Dalam penutupan pembelajaran, evaluasi akan dilakukan oleh guru dengan cara bertanya pada siswa tentang apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang mereka temukan. Jawaban siswa dapat bersifat verbal ataupun dengan mendemonstrasikan melalui gerak. Karakteristik yang unik dari model inkuiri adalah didasarkan pada pertanyaan (question-based teaching), dan berbagai strategi yang di dalamnya termasuk merumuskan seperangkat prosedur yang saling berkaitan yang dapat digunakan guru untuk memfasilitasi pemikiran, pemecahan masalah, dan eksplorasi siswa dalam pendidikan jasmani.

Dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri, guru tetap mengontrol hampir keseluruhan pembelajaran. Guru memberikan kerangka permasalahan dengan memberikan sebuah pertanyaan, memberikan siswa kesempatan untuk menciptakan dan mengeksplorasi satu atau lebih solusi, dan kemudian menanyakan siswa untuk mendemonstrasikan solusinya sebagai bukti bahwa telah

berlangsung pembelajaran. Setelah guru membuat kerangka permasalahan dan siswa mulai berpikir dan bergerak, maka siswa yang menentukan bagaimana mereka terlibat untuk mengeksplorasi jawaban-jawaban yang mungkin. Sedangkan dalam prosedur pembelajaran inkuiri, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Menurut Joyce and Weil (1980) pembelajaran inkuiri mempunyai lima tahapan, yaitu sebagai berikut:

1) Tahap pertama: Penyajian masalah atau menghadapkan siswa kepada situasi teka-teki. Pada tahap ini guru menyajikan masalah dan menentukan prosedur inkuiri pada siswa (berbentuk pertanyaan yang hendaknya dijawab dengan “ya” atau “tidak”).

2) Tahap kedua: Pengumpulan dan verifikasi data. Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat atau alami.

3) Tahap ketiga: Mengumpulkan unsur baru. Pada tahap ini siswa mengajukan unsur ke dalam suatu situasi untuk melihat perubahan yang

terjadi.

4) Tahap keempat: Meneruskan penjelasan. Pada tahap ini guru mengajak siswa merumuskan penjelasan.

5) Tahap kelima: Mengadakan analisis tentang proses inkuiri. Pada tahap ini siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka.

Sedangkan menurut Sudjana (1989; dalam Trianto 2007:142) ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri yaitu:

a) Tahap pertama : Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa.

b) Tahap kedua : Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis.

c) Tahap ketiga : Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau permasalahan.

d) Tahap keempat: Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi.

e) Tahap kelima: Mengaplikasikan kesimpulan.

4.      Model Mengajar Teman Sebaya

Proses pembelajaran seharusnya menempatkan siswa sebagai subyek mempunyai potensi dasar masing yang dapat berkembang bukan sebagai obyek yang hanya dapat dibentuk semau pendidik. Mereka membutuhkan dorongan eksternasl untuk menumbuhkembangkan potensi internal siswa. Setiap pendidik harus memiliki pemahaman bahwa semua siswa memiliki kelebihan atau potensi yang bervareasi untuk berhasil. Jadi keberhasilan itu merupakan sebuah permata yang dapat menjadi milik semua orang. Keanekaragaman potensi atau kemampuan yang dimiliki siswa dalam memahami sebuah konsep sering menimbulkan masalah, antara lain kadang ada siswa yang sangat cepat memahami dan ada yang merasakan kesulitan tetapi merekan segan bahkan merasa takut untuk bertanya kepada guru, apa lagi kalau guru tersebut kurang menyenangkan. Kesulitan yang dialami oleh sekelompok siswa tersebut dapat diatasi dengan cara melibatkan teman sebayanya dalam pembelajaran atau guru menerapkan pembelajaran dengan metode tutor sebaya.

Yang dimaksud tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa-siswa tertentu yang mengalami kesulitan memahami materi dalam belajar. Bantuan yang diberikan oleh teman sebaya pada umumnya dapat memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini terjadi karena hubungan antar siswa terasa lebih dekat dibandingkan dengan hubungan antara siswa dan guru (Moh. Surya, 1985). Tutor sebaya adalah suatu model pendekatan bimbingan dimana satu anak (tenaga ahli) mengarahkan anak yang lain (orang baru ataupun kurang ahli) dalam suatu materi tertentu. Tutor sebaya terjadi ketika tenaga ahli (tutor) dan orang baru (tutee) memiliki kesamaan atau kesetaraan usia. Dikemukakan Damon dan Phelp (Kalkowsky, 2004:1). Menurut M. Sobry Sutikno (2007), beliau mengatakan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dianjurkan agar pendidik membiasakan diri menggunakan komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi, yakni komunikasi yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara pendidik dengan siswa melainkan juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu denga siswa yang lainnya. Kunandar (2007) mengatakan bahwa metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. Kemudian Hamzah B. Uno (2007) mengatakan bahwa metode pertemuan adalah model pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangun suatu kelompok social yang saling menyayangi, saling menghargai, mempunyai kedisiplinan yang tinggi, dan komitmen berprilaku positif. Oleh karena itu guru selalu disarankan agar dapat melaksanakan pembelajaran dalam kelompok –kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lambat/lemah, yang tahu member tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap/mengerti mendorong temannya yang lambat , yang mempunyai gagasan segera member usul , dan seterusnya (Trianto, 2007) Teori Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif anak sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan. Sementara Nur (dalam Trianto, 2007) menyatakan bahwa interaksi sosial.

Jadi Pembelajaran dengan bantuan tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang melibatkan siswa menjadi pengajar setelah dipilih oleh guru berdasarkan kriteria tertentu yang didukung dengan prestasinya yang lebih tinggi dari kelompoknya untuk membantu teman-temanya sendiri yang mengalami kesulitan belajar. Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu belajar Olahraga , bahasa atau pelajaran lainnya, baik satu-satu atau dalam kelompok kecil. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperoleh atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

II. Peran dan Manfaat Pembelajaran Metode Tutor Sebaya

a.       Peran Tutor Sebaya dalam menyelesaikan Tugas-tugas gerak dalam Olahraga , pengajaran tutor sebaya sering digunakan untuk membantu para siswa yang lambat menyelesaikan latihan atau untuk memberikan tambahan bimbingan bagi semua peserta didik yang kurang dalam menyelesaikan tuntutannya. Ternyata para siswa yang lambat menguasai gerak sangat gembira dan bersemangat. Artinya pembelajaran system tutor sebaya ini dapat menggairahkan siswa belajar khususnya Olahraga

b.      Manfaat peran tutor sebaya : • Memberikan pengaruh positif, baik dalam pendidikan dan sosial pada guru, dan tutor sebaya. • Merupakan cara praktis untuk membantu secara individu dalam menyelesaikan tugas gerak • Pencapaian kemampuan menyelesaikan gerakan dengan bantuan tutor sebaya hasilnya bisa menjadi di luar dugaan atau lebih baik. • Jumlah waktu yang dibutuhkan peserta didik untuk menyelesaikan materi gerakan akan meningkat secara signifikan, bergantung pada kualitas tutor sebaya yang digunakan. Dengan strategi ini para siswa yang lemah akan mengambil manfaat dari perhatian yang tak terbagi dari guru. Guru sering tidak punya cukup waktu untuk memberikan bantuan individu seperti ini kepada tiap peserta didik. Itulah sebabnya dengan adanya turor sebaya, maka para guru dan siswa yang kurang akan merasa sangat terbantu. Namun, ini harus dijelaskan dengan seksama kepada tutor sebaya tentang hal apa saja yang harus mereka lakukan. Tutor harus mengetahui harapan kepada mereka. III. Kriteria, Keuntungan, hakikat partisipasi Tutor Sebaya dalam pembelajaran a. Kriteria dan Keuntungan Tutor Sebaya Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) merupakan salah satu dari empat pilar yang ditetapkan oleh UNESCO. Learning to do dapat terwujud manakala sipembelajar (siswa) difasilitasi untuk mengatualiasasikan kompetensi, bakat, dan minat yang mereka miliki. Penerapan metode tutor sebaya dalam pembelajaran akan dapat mendukung pilar belajar Learning to do, jika siswa yang dipilih menjadi tutor memenuhi kriteria-kriteria yang betul. Kriteria-kriteria yang dimaksud adalah seperti pendapat pakar berikut. Ada empat kriteria menjadi tutor sebaya yang ditawarkan oleh Moh. Surya (1985), yaitu: 1) tutor membantu murid/siswa yang kesulitan berdasarkan petunjuk guru, 2) murid/siswa yang dipilih sebagai tutor hendaknya diperhatikan segi kemampuan dalam penguasaan materi dan kemampuan membantu orang lain, 3) dalam pelaksanaannya, tutor-tutor ini dapat membantu teman-temannya baik secara individual maupun secara kelompok sesuai petunjuk guru, 4) tutor dapat berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan kelompok, dalam hal tertentu dia dapat berperan sebagai pengganti guru. Kesimpulannya bahwa siswa yang dapat ditunjuk sebagai tutor harus memiliki criteria yang jelas yaitu siswa yang memiliki keunggulan kompetensi dibandingkan dengan siswa lain di kelasnya. Selanjutnya, Moh. Surya (1985) juga menguraikan bahwa keuntungan metode tutor sebaya adalah 1) adanya suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab antara murid/siswa yang dibantu dengan murid/siswa sebagai tutor yang membantu, 2) bagi tutor sendiri sebagai kegiatan remedial yang merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar, 3) bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak siswa dibantu, dan 4) dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri. Dari uraian di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa metode tutor sebaya dapat menimbulkan sebuah kekuatan/penguatan (reinforcement) baik bagi siswa yang dibantu maupun siswa yang membantu dalam mengkonstruksi pengetahuan/konsep, karena tutor sebaya dibangun dengan jalinan kedekatan dari kasih sayang. Dengan demikian penerapan metode tuto sebaya dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Tutor harus bekerja dengan peserta didik yang lebih muda dengan cara yang tenang dan penuh kooperatif, ramah, jujur, dan terhindar dari gangguan. Berikut ini contoh teknik strategi tutor sebaya dalam menyelesaikan materi penjas, antara lain: Teknik Passing. Guru mata pelajaran mengajarkan kepada tutor tekhnik membantu siswa yang kurang, sebagai berikut: a) mengajarkan sikap yang benar dalam pasing, penempatan bola dan ayunan tangan b) Memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang untuk menyelesaikan sendiri tugas tersebut, bantuan seperlunya dari tutor. c) Guru mata pelajaran memantau kegiatan tutor seperlunya. d) Tutor diberi kesempatan memimpin Pembelajaran untuk pembahasan penyelesaian materi penjas.

5.      Direct Instruction/ Model Pengajaran Langsung

Dasar teori: model ini mengambil filosofi dasar dari aliran behavioralistik dimana stimulus dan respon memegang peranan penting. Siswa diajarkan untuk melakukan kegiatan yang benar dengan kontrol yang ketat. Model ini menuntut siswa melaksanakan apa yang direncanakan oleh guru dengan konsekeuensi adanya “reward”. Guru adalah model yang baik dan harus sangat menguasai materi yang diberikan kepada siswa. Adalah sebuah kesalahan ketika menempatkan guru sebagai dewa yang tidak pernah salah. Cara ini akan sangat baik ketika tingkat penguasaan guru terhadap materi, siswa, lingkungan, skenario sangat-sangat “exelence”. Arti mengajar bagai guru dan belajar bagi siswa. Bagi guru: Guru adalah sumber utama dari semua perencanaan yang ada, Guru menentukan isi, tempat, aktivitas belajar dan peningkatan pembelajaran, Guru harus dapat mentranser ilmu dengan efektif dan efisien, Guru harus dapat memanfaatkan semua sumber yang ada untuk terlaksananya proses belajar, Guru disamping merencanakan juga merupakan pelaksana dari perencanaan yang diimplementasikan kepada siswa.

Bagi siswa: Siswa belajar dari hal yang mudah ke sukar, sederhana ke komplek, Siswa harus dengan jelas mengerti tugas yang menjadi bahan ajar dan dipelajari termasuk kreteria keberhasilan, Belajar merupakan konsekuensi yang akan ada “reward”, Siswa membutuhkan banyak bantuan dalam mempelajari bahan yang dipelajari, Dalam belajar siswa berhak untuk mendapatkan umpan balik agar terjadi proses belajar dengan benar.

a.      Keahliah Guru dan Analisis Kontek

Domain belajar yang diutamakan secara berurutan sebagai berikut: Pertama: Psikomotor, Kedua: Cognitif, Ketiga: Affectif. Siswa lebih banya waktu untuk melakukan praktek, Praktek harus sesuai dengan tujuan dan belajar secara lebih individu meskipin itu dalam kelompok, Siswa yang latihan akan lebih mendapatkan keberhasilan yang tinggi, Guru yang efektif harus mendesain agar menciptakan lingkungan belajar, Guru yang efektif adalah guru yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, Perkembangan isi pelajaran harus meningkatkan pembelajaran.

b.      Penilainan Proses Belajar Mengajar

Penilaian terdiri atas formal dan informal; Formal dilakukan dengan melakukan: Siswa diberikan daftar keberhasilan pencapaian belajar dari setiap materi yang dipelajari, ketika telah mencapai bahan yang telah dipelajari baru kemudian dapat naik pada meteri berikutnya, Dilakukan tes secara periodik, dengan test, quizzes, oral test, skill test dengan kreteria yang telah dibuat baik acuan norma atau patokan, Pengamatan terhadap kemempuan siswa, ketika dianggap bisa baru melanjutkan pada tahap berikutnya, Observasi yang dilakukan oleh sesama siswa, Informal: Jika siswa 80% sudah menguasai maka pelajaran dilanjutkan pada tingkatan selanjutnya, Guru memonitor secara sampling terhadap kinerja siswa.

c.       Modifikasi Instruksional Untuk Pendidikan Jasmani

Metode ini sebenarnya paling baik didesain untuk pembelajaran keterampilan konsep dan gerak dasar, ketika ingin mengembangkan afektif ataupun kognitif penggunaan model ini tidak akan begitu efektif. Pembelajaran yang dapat menggunakan model ini. Model ini akan baik jika dipergunakan untuk materi-materi sebagai berikut: Olahraga individu, Olahraga team (tetapi khusus untuk pemula dan menengah), Menari, Aerobik (semua pembelajaran yang membutuhkan bantuan guru secara langsung), Olahraga yang gerakannya diulang-ulang (angkat beban, senam, streaching), Olahraga non-kompetisi.

Merupakan model pembelajaran yang paling dikenal dimana guru secara langsung menyusun, mengarahkan, membimbing dan mengevaluasi apa yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Model ini dapat dikatakan dengan slogan “ guru bicara siswa melaksanakan” atau “guru punya perintah siswa punya capek”. Dalam model ini peranan guru mencapai 80% dimulai dari menyiapkan bahan, memberikan skill, memberikan contoh, memberikan feedback, bahkan sampai langkah yang dilakukan oleh siswa dikontrol oleh guru. Terkesan dalam metode ini guru adalah tuhan yang menentukan apa dan semua yang akan dipelajari serta memberi kabel kepada siswa status keberhasilan belajar. Proses belajar mengajar berlangsung satu arah dengan guru sebagai komandan dan siswa sebagai pelaksana. Domain yang menjadi urutan dalam model ini adalah psikomotor, kognitif baru afektif. Meskipun cara ini sebagai cara yang dianggap kuno tetapi cara ini banyak dipakai karena alasan praktis mudah dan memang cara yang sudah turun-temurun diperoleh, dengan cara ini guru dapat mengontrol belajar siswa dan menguasai semua lini. Lemahnya cara ini ketika guru tidak kompeten maka akan mengakibatkan PBM tidak berjalan dengan baik. Cara ini juga dapat dikatakan dengan ibaratnya “dilaksanakan seperti membuka buku sampai dengan menutup kembali pada halaman akhir” merupakan tugas guru.

Secara filosofi model ini didasarkan pada teorinya Skinner sebagai aliran behavioral yang kental dengan adanya stimulus dan respon. Sehingga model ini akan banyak adanya rangsangan dan ”hadiah” sebagai akibat dari respon yang diberikan dan dikenal istilah reward dan punishment. Ketika siswa melakukan hal yang baik maka guru akan memberikan reward potitif, dan ketika melakukan hal yang salah maka akan diberikan reward negatif. Proses belajar mengajar mengukuti alur sebagai berikut Shaping, modeling, practice, feedback, and reinfocement (metzler: 165). Model ini dalam mendidik siswa dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor memang mengkhususkan diri mendidik diutamakan adalah mendidik psikomotor, kognitif baru orientasi ketiga afektif. Sehingga ketika ingin membelajarkan anak untuk belajar gerak dengan materi tertentu dan akan menuntut kualitas maka pakailah model ini.

Dasar teori, dari kajian kurikulum pendididikan jasmani sport education memiliki pengertian, Sport education is a curriculum that can be espanded far beyond the scholl to encompass many sport activities throughout the community (Jewet: 171). Dan hal ini sejalan juga dengan model pembelajaran yang menganut sport education model. Dari sisi kurikulum menjadikan sport education model sebagai kerangka besar dan dari model pembelajaran juga disediakan model dengan istilah yang sama. Beberapa kurikulum pendidikan jasmani yang dikenal antara lain sport education, Fitnes education, personal meaning, movement Analysis, Development model.

Dasar teori yang dipergunakan dalam model ini (sport education) adalah seperti apa yang diungkapkan oleh Darly Siedentop dimana diambil filosifi bahwa olahraga adalah bentukan dari permainan/bermain. Dengan memberikan suatu tempat yang khusus pada masyarakat dan telah berkembang sesuai dengan sejarah dan global. Jika olahraga diterima sebagai sebuah bentuk dari bermain maka nilai terkandung akan membetuk masyarakat dan secara resmi merupakan proses bagaimana orang datang dan belajar untuk berpartisipasi dalam budaya olahraga. Budaya yang dimaksud adalah pelaksanaan nilai dan tatacara yang terkandung dalam olahraga. Sport education diadaptasi dengan adanya pertandingan-pertandingan, sehingga siswa akan memiliki jiwa yang sportit, belajar nilai, skill, ritual, peraturan, tradisi dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Sehingga ketika menerapkan pembelajaran model ini hal yang terpenting adalah mendesain pembelajaran sampai pada kompetisi. Siswa diberi kesempatan untuk mengambil bagian, berperan mengambil bagian pada hal yang diminati dan dapat dilakukan. Tidak semua siswa mampu menjadi atlet, sehinga siswa yang kurang menyukai keterlibatan langsung dapat berperan dan belajar dengan menjadi wasit, hakim garis, P3K, pemandu sorak, suporter yang baik, pencari data, menejer, pelatih, asisten pelatih, tukang pijat dan masih banyak bagian lagi yang kesamuanya dilakukan untuk proses pembelajaran. Ciri utama dari model ini adalah adanya kompetisi dan siswa diajak untuk berfikir bagaimana caranya agar kita dapat mengikuti, merasakan, melaksanakan, terlibat dalam kompetisi dengan segalam adat istiadat kecabangan yang diikuti. Model ini dapat dipergunakan untuk siswa kelas 4 sekolah dasar ke atas. Arti mengajar bagai guru dan belajar bagi siswa, bagi guru: Diperlukan penggabungan atau kombinasi penggunaan strategi, fasilitas dan variasi dalam belajar. Strategi ini termasuk direct teaching, cooperative, peer, small group teaching. Guru harus mengkondisikan adanya pertandingan (musim kompetisi) untuk siswa. Guru mengarahkan siswa tentang nilai, tradisi yang berhubungan dengan kecabangan yang diikuti. Guru harus merencanakan agar siswa dapat terfasilitasi agar mendapat kesempatan untuk belajar dan bertanggungjawab dalam mengambil peranan dalam sesi kompetisi.

Aktivitas belajar Domain
Membuat keputusan organisasi (siswa sebagai event organiser) Kognitif

afektifLatihan (siswa sebagai pemain)Psikomotor

Kognitif

affektifLatihan (siwa sebagai pelatih)Kognitif

Affektif

psikomotorSelama bermain (siswa sebagai pemain)Psikomotor

Kognitif

affektifSelama bermain (siswa sebagai pelatih)Kognitif (strategi, taktik)

Affektif (kepemimpinan),

psikomotorDst tergantung keterlibatan siswa dalam kompetisi/pertandingan…

Bagi siswa: Dengan bimbingan dan fasilitasi dari guru siswa membuat banyak keputusan apa yang harus dilakukan dan bertanggungjawab atas keputusan tersebut. Kesempatan untuk siswa agar mempelajari setiap kejadian dan masuk dalam pengambilan keputusan. Siswa bekerjasama dalam susunan team untuk mencapai tujuan. Mempelajari olahraga dengan Aktif, dan sebagai partisipan.

Siswa dapat memperkirakan perkembangannya dengan baik untuk mereka sendiri tetapi terkadang dibutuhkan bimbingan dari guru. Model ini sungguh memberikan hal yang nyata dari pengalaman olahraga yang secara umum disusun dengan setting keikutsertaan aktif dalam kompetisi olahraga.

d.      Keahliah Guru dan Analisis Kontek

Dalam model ini aspek yang dikembangkan secara berurutan: Dalam model ini domain yang dikembangkan tergantung dari apa yang ditekankan dan dalam setiap bagian, sehingga model ini adalah model yang mengembangkan semua ranah dalam domain kognitif, afektif dan psikomotor. Hal ini terjadi karena model ini dalam pelaksanaannya diperlukan penggabungan/kombinasi dari model-model pembelajaran yang lain. Sehingga dapat sedikit dicontohkan bagimana kontek pengembangan domain ini tergantung dari aktivitas belajar yang dilakukan atau peran apa yang diambil siwa untuk mensukseskan kompetisi/pertandingan:

Penilainan proses belajar mengajar, Penilaian dalam model ini lebih banyak menekankan pada proses, proses bagaimana siswa berusaha untuk menguasai nilai dan tradisi dari kompetisi kecabangan. Sehingga masuk di dalamnya juga penilaian terhadap keterampilan dasar, pengetahuan peraturan dan strategi, kinerja ketika pertandingan dan penguasaan taktik, keanggotaan dalam team, tingkahlaku yang baik. Modifikasi instruksional untuk pendidikan jasmani. Model ini sangat terbuka luas untuk diadakan modifikasi dan model ini menerima semua jenis modifikasi. Hal utama yang membedakan model ini dengan model lain terletak pada harus adanya kompetisi sebagai suatu titik kultimasi dari pelajaran yang sedang dilaksanakan. Sehingga semua modifikasi tentang peraturan, peralatan, lapangan, latihan fisik, program semua diterima dalam model ini. Yang tidak diterima adalah tidak ada kompetisi.

e.       Skenario Model Dalam Sport Education

Ketika sekolah telah menetapkan model ini maka diharapkan seluruh sekolah konsekuen dengan kegiatan yang dilaksanakan. Guru menyusun rencana kecabangan yang akan dipetandingkan atau dikompetisikan pada akhir periode waktu ajar. Guru menentukan apa saja yang diperlukan untuk mensukseskan kompetisi tersebut, berdasarkan hal ini diberikan kepada siswa dan siswa dengan kemampuan masing-masing berusaha untuk mengambil peran yang dapat dilaksanakan. Dalam hal ini proses PBM yang mengajarkan keterampilan teknik ataupun taktik setiap siswa harus mengikuti, yang menjadi hal bahwa model ini berbeda adalah siswa mengambil peran dan memperdalam ke salah satu satu bagaian dari yang dibutuhkan untuk kepentingan pelaksanaan kompetisi. Selama proses pembelajaran dan kegiatan yang berhubungan dengan kecabangan siswa berkegiatan agar memperdalam keahliannya yang pada akhirnya dipertunjukkan dalam kompetisi agar kompetisi berjalan sukses. Sehingga dalam prakteknya setiap siswa tidak akan sama hal yang dikembangkan (kognitif, afektif dan psikomotor). Untuk siswa yang memilih menjadi pelatih maka dia harus mengembangkan kemampuan dan memperkuat kognitif afektif dan tentunya mensyaratkan psikomotor yang baik. Ketika siswa memilih untuk menjadi pemain maka psikomotor yang akan didalami. Dalam model ini sekolah yang menggunakannya seperti akan memiliki tradisi, tradisi untuk berlatih belajar dan akhirnya bertanding dengan mengembangkan semua ranah dalam pendidikan. Peran apa yang akan diambil oleh siswa? Bagaimana mengembangkannya? Merupakan pekerjaan pengembangan dalam pembalajaran dan pembelajaran tambahan yang akan menuntut persiapan dan keseriusan dari sekolah.

6.        Model Tanggung Jawab Pribadi dan Sosial

A.    Model Hellison

Salah satu model pembelajaran pendidikan jasmani yang termasuk dalam katagori model rekonstruksi social adalah model Hellison, (1995), yang berjudul Teaching Responsibility Through Physical Activity. Pembelajaran pendidikan jasmani dalam model ini lebih menekankan pada kesejahteraan individu secara total, pendekatannya lebih berorientasi pada siswa, yaitu self-actualization dan social reconstruction. Steinhart mengatakannya sebagai model humanistic. Model pembelajaran pendidikan jasmani dari Hellison ini diberi nama level of affective development. Tujuan model Hellison ini adalah meningkatkan perkembangan personal dan responsibility siswa dari irresponsibility, self control, involvement, self direction dan caring melalui berbagai aktivitas pengalaman belajar gerak sesuai kurikulum yang berlaku. Hellison dalam bukunya ini mengungkap beberapa bukti keberhasilan modelnya dalam mengatasi masalah pribadi dan sosial siswa. Namun demikian Ia juga menyadari akan beberapa kritik yang dilontarkan terhadap modelnya ini misalnya produk social dan personal dari model ini walaupun penting namun tidak berhubungan secara spesifik dengan subjek mater pendidikan jasmani seperti keterampilan olahraga atau kebugaran tetapi bersifat umum berlaku juga pada pelajaran lain. Model Helison ini sering digunakan untuk membina disiplin siswa (self-responsibility) untuk itu model ini sering digunakan pada sekolah-sekolah yang bermasalah dengan disiplin siswanya. Hellison mempunyai pandangan bahwa: perubahan perasaan, sikap, emosional, dan tanggung jawab sangat mungkin terjadi melalui penjas, namun tidak terjadi dengan sendirinya. Perubahan ini sangat mungkin terjadi manakala penjas direncanakan dan dicontohkan dengan baik dengan merefleksikan qualitas yang diinginkan. Potensi ini diperkuat oleh keyakinan Hellison bahwa siswa secara alami berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang baik dan penghargaan ekstrinsik adalah “counter productive”. Melalui model ini guru berharap bahwa siswa berpartisipasi dan menyenangi aktivitas untuk kepentingannya sendiri dan bukannya untuk mendapatkan penghargaan ekstrinsik. Fair play dalam penjas akan direfleksikan dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu pada dasarnya model Hellison ini dibuat untuk membantu siswa mengerti dan berlatih rasa tanggung jawab pribadi (self-responsibility) melalui pendidikan jasmani.

1.  Tanggung Jawab Pribadi Rasa tanggung jawab pribadi yang dikembangkan dalam model ini terdiri dari lima tingkatan, yaitu level 0, 1, 2, 3, dan level 4. a) Level 0: Irresponsibility Pada level ini anak tidak mampu bertanggung jawab atas perilaku yang diperbuatnya dan biasanya anak suka mengganggu orang lain dengan mengejek, menekan orang lain, dan mengganggu orang lain secara fisik. Contoh lain misalnya: di rumah: menyalahkan orang lain di tempat bermain: memanggil nama jelek terhadap orang lain di kelas: berbicara dengan teman saat guru sedang menjelaskan dalam Penjas: mendorong orang lain pada saat mendapatkan peralatan olahraga. b) Level 1: Self-Control Pada level ini anak terlibat dalam aktivitas belajar tetapi sangat minim sekali. Anak didik akan melakukan apa-apa yang disuruh guru tanpa mengganggu yang lain. Anak didik nampak hanya melakukan aktivitas tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Sebagai contoh misalnya: di rumah: menghindari dari gangguan atau pukulan dari saudaranya walaupun hal itu tidak disenanginya. di tempat bermain: berdiri dan melihat orang lain bermain di kelas: menunggu sampai datang waktu yang tepat untuk berbicara dengan temannya. dalam Penjas: berlatih tapi tidak terus-menerus. c) Level 2: Involvement Anak didik pada level ini secara aktif terlibat dalam belajar. Mereka bekerja keras, menghindari bentrokan dengan orang lain, dan secara sadar tertarik untuk belajar dan untuk meningkatkan kemampuannya. Sebagai contoh misalnya: di rumah: membantu mencuci dan membersihkan piring kotor di tempat bermain: bermain dengan yang lain di kelas: mendengarkan dan belajar sesuai dengan tugas yang diberikan dalam Penjas: mencoba sesuatu yang baru tanpa mengeluh dan mengatakan tidak bisa d) Level 3: Self-responsibility Pada level ini anak didik didorong untuk mulai bertanggung jawab atas belajarnya. Ini mengandung arti bahwa siswa belajar tanpa harus diawasi langsung oleh gurunya dan siswa mampu membuat keputusan secara independen tentang apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Pada level ini siswa sering disuruh membuat permainan atau urutan gerakan bersama temannya dalam suatu kelompok kecil. Kegiatan seperti ini sangat sulit dilakukan oleh siswa pada level sebelumnya. Mereka biasanya menghabiskan waktu untuk berargumentasi daripada untuk melakukan gerakan bersama-sama. Beberapa contoh perilaku siswa pada level tiga ini misalnya: di rumah: membersihkan ruangan tanpa ada yang menyuruh di tempat bermain: mengembalikan peralatan tanpa harus disuruh di kelas: belajar sesuatu yang bukan merupakan bagian dari tugas gurunya dalam Penjas: berusaha belajar keterampilan baru melalui berbagai sumber di luar pelajaran Pendidikan Jasmani dari sekolah. e) Level 4: Caring. Anak didik pada level ini tidak hanya bekerja sama dengan temannya, tetapi mereka tertarik ingin mendorong dan membantu temannya belajar. Anak didik pada level ini akan sadar dengan sendirinya menjadi sukarelawan (volunteer) misalnya menjadi partner teman yang tidak terkenal di kelas itu, tanpa harus disuruh oleh gurunya untuk melakukan itu. Beberapa contoh misalnya: di rumah: membantu memelihara dan menjaga binatang peliharaan atau bayi. di tempat bermain: menawarkan pada orang lain (bukan hanya pada temannya sendiri) untuk ikut sama-sama bermain. di kelas: membantu orang lain dalam memecahkan masalah-masalah pelajaran. dalam Penjas: antusias sekali untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam Penjas.

2) Strategi pembelajaran

Terdapat tujuh strategi pembelajaran yang digunakan Hellison dalam mengajar tanggung jawab pribadi melalui penjas, yaitu:

a) Penyadaran (awarness)

b) Tindakan

c) Refleksi

d) Keputusan pribadi

e) Pertemuan kelompok

f) Konsultasi

g) Kualitas pengajar

Strategi penyadaran dan tindakan dimaksudkan untuk menyadarkan siswa tentang definisi tanggung jawab baik secara kognitif maupun dalam bentuk tindakan. Strategi refleksi dimaksudkan untuk membantu siswa mengevaluasi sendiri mengenai komitmen dan tandakan rasa tanggung jawabnya. Strategi keputusan pribadi dan pertemuan kelompok dimaksudkan untuk memberdayakan siswa secara langsung dalam membuat keputusan pribadi dan kelompoknya. Strategi konsultasi dan kualitas mengajar dimaksudkan untuk menyediakan beberapa struktur dan petunjuk bagi siswa untuk dapat berinteraksi mengenai kaulitas rasa tnggung jawab yang dikembangkannya.

3) Contoh Bentuk Latihan Levels of Affective Development Pembinaan rasa tanggung jawab melalui pendekatan model Hellison dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran Penjas dan berlangsung secara terus menerus semenjak awal hingga akhir tahun ajaran. Penjelasan tentang tingkat perkembangan rasa tanggung jawab pribadi yang terdiri dari lima tingkatan tersebut di atas terlebih dahulu harus diberikan yang selanjutnya diikuti oleh latihan-latihan. Beberapa contoh latihan dalam Levels of Affective Development sebagai berikut.

a) Pada kasus mengambil peralatan olahraga. Guru menanyakan dan menyuruh siswa tentang bagaimana perilaku seseorang pada level 0, level 1, 2, 3, dan 4 pada waktu mengambil peralatan itu.

b) Pada saat belajar keterampilan baru (new skill), siswa disuruh bekerja pada level yang paling baik. Selanjutnya guru memberikan penghargaan, pujian, atau pinpointing terhadap siswa yang bekerja lebih baik.

c) Pada saat siswa berperilaku menyimpang, siswa tersebut mendapat “time out” dan diberi tugas untuk memikirkan mengapa perilaku menyimpang adalah level 0. Selanjutnya setelah siswa tahu perilaku siswa pada level 1 atau level yang lebih tinggi serta cukup meyakinkan guru bahwa ia mampu berperilaku pada level yang lebih tinggi, maka gurunya mengijinkan siswa itu untuk kembali mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.

d) Pada saat siswa mengeluh tentang perbuatan siswa yang lainnya, guru menyuruh anak yang mengeluh itu untuk mengidentifikasi pada level mana perbuatan siswa yang dikeluhkan tersebut serta bagaimana cara-cara bergaul dengan siswa yang dikeluhkan tersebut.

e) Pada kasus kerja kelompok. Sebelum melakukannya guru dan siswa mendiskusikan bagaimana perilaku siswa pada level 4 dalam bekerja sama pada sebuah group. Topik diskusi adalah bagaimana bekerja sama dengan siswa yang mempunyai level 0 dan level 1.

4) Evaluasi Levels of Affective Development Program evaluasi dalam model ini merupakan masalah tersendiri terutama bagi para guru yang belum terbiasa melakukan penilaian kualitatif. Selain penilaian yang berhubungan dengan keolahragaan dan pendidikan jasmaninya. Beberapa bentuk penilaian yang berhubungan dengan rasa tanggung jawab ini dan seringkali menjadi focus utama adalah sebagai berikut,

a) catatan harian

b) observasi

c) refleksi siswa

d) tes pengetahuan rasa tanggung jawab

e) wawancara dengan orang lain

B.     Model Canter’s Asertif

Selain model Hellison sebagaimana tersebut di atas, terdapat model lain dalam pendidikan jasmani yang sering digunakan secara terintegrasi untuk mengembangkan disiplin siswa dengan strategi yang relative sama, yaitu model disiplin assertif. Model ini dikembangkan oleh Canter (1976). Ia membuat model pembinaan disiplin dengan nama Canter’s Assertive Discipline. Perbedaan model yang dikembangkan oleh Hellison dan Canter terutama terletak pada motivasi yang dijadikan landasan untuk mengembangkan didiplin siswa. Model Hellison lebih menekankan pada motivasi intrinsic yang dilandasi pada keyakinan bahwa: siswa secara alami berkeinginan untuk melakukan sesuatu yang baik dan penghargaan ekstrinsik adalah “counter productive”. Sementara itu, model Canter lebih menekankan pada motivasi ekstrinsik, seperti penghargaan, pujian, dan dorongan, termasuk konsekuensi.

1) Model ini didasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut:

a)  Semua siswa dapat berperilaku baik

b)  Pengawasan yang ketat atau kokoh akan tetapi tidak pasif dan tidak menakutkan adalah layak untuk diberikan.

c)  Harapan atau keinginan guru yang rasional mengenai perbuatan siswa yang sesuai dengan perkembangannya (seperti dibuat dalam peraturan) harus diberitahukan kepada siswa.

d) Guru harus mengharapkan siswa berperilaku secara layak dan pantas namun harus mendapat dukungan dari orang tua siswa, guru lain, dan kepala sekolah.

e) Tingkahlaku siswa yang baik harus segera didukung atau dihargai sementara tingkahlaku yang tidak baik harus mendapat konsekuensi yang logis.

f)  Konsekuensi logis akibat penyimpangan perilaku harus ditetapkan dan disampaikan kepada siswa.

g)   Konsekuensi harus dilaksanakan secara konsisten tanpa bias.

h) Komunikasi verbal dan non verbal harus disampaikan dengan kontak mata antara guru dan siswa.

i) Guru harus melatih keinginan-keinginan atau harapkan-harapan dan konsekuensi secara mental dengan konsisten kepada siswa.

2) Contoh harapan yang dituangkan dalam bentuk peraturan dikembangkan di Riverside Elementary School oleh Bell (1995).

1) menghargai orang lain (respect for others)

2) bermain jujur (play fair)

3) bermain dengan tidak membahayakan (play safely)

4) lakukan yang terbaik (do your best)

5) ikuti petunjuk guru (follow directions)

3) Contoh konsekuensi (Hill, 1990) sebagai berikut:

1) peringatan

2) time-out 5 menit

3) time-out 10 menit

4) memanggil orang tua siswa

5) mengirim siswa ke kepala sekolah

4) Ciri Keberhasilan Model Hellison dan Canter Assertive.

Pertanyaan yang sering muncul dilontarkan oleh para pendidik Penjas adalah model mana yang paling efektif digunakan? Apakah model yang didasarkan pada motivasi ekstrinsik (assertive discipline) atau motivasi instrinsik (levels of affective development)? Pertanyaan ini agak sulit dijawab karena nampaknya keberhasilan pembinaan disiplin bukan terletak pada jenis model yang digunakan akan tetapi terletak pada bagaimana karakteristik model yang digunakan tersebut. Paling tidak ada empat karakteristik model pembinaan disiplin yang dapat dikatakan berhasil, yaitu sebagai berikut:

a) Siswa betul-betul memahami dan mengerti pelaksanaan sistem pembinaan disiplin berikut alasan-alasan mengapa pembinaan disiplin perlu diterapkan. Oleh karena itu hendaknya sistem pembinaan disiplin dijelaskan secara teliti dan hati-hati kepada siswa. Selanjutnya diikuti oleh contoh-contoh yang jelas dan latihan-latihan secara memadai yang dimulai dari setiap awal tahun ajaran. Sehingga siswa akan mengerti mengapa pembinaan disiplin sangat penting dan siswa juga mengerti bagaimana pembinaan disiplin itu diterapkan.

b) Guru secara konsisten menerapkannya. Sekali kegiatan rutin dan peraturan diterapkan, maka guru harus terus menerapkan dan menggunakan standar yang sama dari hari ke hari, sehingga siswa akan mengerti dan memahami betul apa-apa yang sebenarnya diharapkan (expectations) oleh gurunya. Hal ini sangat mudah dikatakan tetapi sangat sulit diterapkannya. Guru lebih cenderung menerapkan sistem pembinaan disiplin ini hanya pada awal-awal pertemuan saja. Misal: pada awal-awal pertemuan, pada saat guru bilang “stop”, semua siswa meletakkan bola yang dipegangnya. Namun demikian, setelah beberapa pertemuan, seorang siswa tidak meletakkan bola setelah gurunya bilang “stop” dan guru mengabaikannya. Dalam contoh itu, guru kurang konsisten dalam menerapkan sistem pembinaan disiplin. Secara bertahap, bagaimanapun, hal ini menjadi bertambah banyak: dua siswa, tiga siswa, enam siswa yang akhirnya pembinaan disiplin mejadi pudar kembali.

c) Sistem pembinaan disiplin itu didukung oleh kepala sekolah dan guru kelas. Pada saat tertentu mungkin guru Penjas akan menemukan siswa yang tidak disiplin; siswa tidak mau menerapkan peraturan dan penghargaan maupun “time out” tidak berpengaruh terhadap disiplin siswa tersebut. Dalam kesempatan itu, guru Penjas memerlukan bantuan kepala sekolah dan guru kelas. Mereka mungkin menyadari dan mengetahui mengapa siswa berbuat seperti itu dan bagaimana strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah itu. Oleh karena itu maka salah satu konsekuensi bagi siswa yang berperilaku menyimpang adalah harus berhadapan dengan kepala sekolah yang mungkin akan dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh guru Penjas.

d) Sistem pembinaan disiplin itu harus didukung oleh orang tua siswa. Seperti halnya bantuan kepala sekolah dan guru kelas, manakala orang tua siswa mengetahui dan mendukung sistem pembinaan disiplin yang digunakan oleh guru Penjas, maka orang tua siswa akan cenderung mau membantu guru Penjas dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa dari orang tua tersebut.

5) Menghadapi Kenyataan Pembahasan dalam uraian sebelumnya lebih banyak menyoroti bagaimana mengurangi masalah disiplin siswa. Namun demikian, kebanyakan guru, bahkan dalam situasi yang ideal sekalipun, mungkin harus merasakan dirinya terpaksa menerima kenyataan mendapatkan seorang atau beberapa siswa yang kurang disiplin. Sudah barang tentu hal ini akan menimbulkan perasaan marah atau menyakitkan bagi gurunya. Sehubungan dengan itu ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh para guru untuk mengurangi rasa kecewa atau marah tersebut sehingga bisa menguntungkan baik bagi guru maupun siswanya:

a) Mencoba menyadari bahwa perilaku menyimpang bukan sifat perorangan: semua orang dalam kondisi tertentu bisa saja berbuat hal yang sama. Untuk itu cobalah untuk tidak marah atau menyesal: ambilah nafas dalam-dalam dan selanjutnya perlakukan anak tersebut sebagaimana mestinya.

b) Lakukan pendekatan secara pribadi. Dari pada guru berteriak-teriak memarahi siswa yang tidak disiplin dari kejauhan sementara siswa yang lainnya menonton dan mendengarkan kejadian tersebut, maka lebih baik guru melakukan pendekatan secara pribadi. Dekati siswa yang kurang disiplin tersebut, panggil ke pinggir lapangan, dan lakukan interaksi singkat sehingga siswa lain tidak mengetahuinya dan tetap melakukan aktivitas belajar sebagaimana mestinya. Kalau pilihan yang ke dua itu sering dilakukan oleh gurunya, maka bukan hal yang mustahil siswa akan mempunyai pikiran yang positif terhadap lingkungan belajar Penjas yang diperolehnya di sekolah.

c) Penjelasan kepada siswa. Gunakan nama siswa untuk memanggil siswa itu, jelaskan kepada siswa peraturan yang dilanggar secara perlahan dan menyakinkan dan berilah kesempatan untuk berpikir. Beri kesempatan untuk megemukakan pendapatnya, perhatikan pendapat siswa dengan penuh perhatian dan peghargaan, dan berusaha untuk mengerti apa maksudnya. Setelah selesai interaksi, guru menyimpulkan sambil memberitahu konsequensi yang harus dilakukan akibat penyimpangan perilaku yang diperbuatnya.

d) Usahakan jangan pernah marah kepada siswa dalam situasi dan kondisi apapun. Interaksi yang tenang dan perlahan jauh lebih efektif daripada marah. Bahkan meskipun siswa secara jelas melakukan perilaku menyimpang, guru harus menjaga harga dirinya. Siswa yang sakit hati, marah, atau frustasi karena melakukan kesalahan, harus disadarkan oleh gurunya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah pelanggaran terhadap peraturan, namun hal itu wajar saja apabila dilakukan secara tidak sadar atau lupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s